RADARPATI.JAWAPOS.COM - Media sosial, khususnya Threads dan X, baru-baru ini diramaikan oleh keluhan warga terkait hasil penelusuran peringkat kesejahteraan dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Sejumlah masyarakat terkejut lantaran keluarganya dikategorikan masuk ke dalam kelompok Desil 9 hingga Desil 10, meski merasa kondisi ekonomi mereka tergolong pas-pasan.
Baca Juga: Besaran Nominal Gaji PPPK Guru dan Tenaga Kependidikan Sekolah Rakyat 2026
Kegaduhan tersebut mencuat seiring munculnya kekhawatiran masyarakat, mengingat data desil DTSEN tengah dikaji pemerintah sebagai salah satu dasar pembatasan BBM bersubsidi jenis Pertalite bagi kelompok Desil 9 dan 10.
Beberapa warga meluapkan keheranannya di media sosial. Seorang pengguna Threads yang masih mengontrak rumah tipe 36 dan hanya memiliki satu mobil bekas mengaku mendapati keluarganya masuk Desil 9. Keluhan serupa disampaikan warga lain yang masuk Desil 10 padahal masih mengontrak dan hanya mengandalkan penghasilan suami sekitar Rp3 juta per bulan. Bahkan, seorang ibu rumah tangga yang menganggur dan menumpang di rumah orang tua turut dikategorikan ke dalam Desil 9.
Menanggapi polemik tersebut, Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan klarifikasi mengenai mekanisme pemeringkatan desil agar tidak terjadi keliru penafsiran di masyarakat.
Mekanisme Pemeringkatan Desil dan Variabel Penilaian
BPS menjelaskan bahwa desil bukanlah acuan atau batas nominal gaji (cut off point) untuk menentukan status kaya atau miskin, melainkan murni pembagian populasi keluarga ke dalam 10 kelompok peringkat kesejahteraan.
Berikut adalah poin-poin penting penjelasan BPS terkait penentuan Desil DTSEN:
-
Sistem Peringkat Berantai: Jika terdapat 270 keluarga, populasi tersebut dibagi rata menjadi 10 kelompok yang masing-masing berisi 27 keluarga. Desil 1 mewakili kelompok dengan peringkat kesejahteraan terendah, sedangkan Desil 10 berada di urutan tertinggi.
-
Unit Analisis berbasis Kartu Keluarga (KK): Penilaian dilakukan terhadap keseluruhan keluarga dalam satu KK, bukan individu. Status seseorang sebagai pengangguran tidak otomatis menempatkan rumah tangganya di Desil 1–4 jika kondisi anggota keluarga lain dalam KK tersebut terhitung mampu.
Baca Juga: Kebijakan Kenaikan Gaji Pokok ASN 2027 Sudah Terpetakan? Ini Arahnya
-
Indikator Aspek Multidimensi: Pemeringkatan tidak hanya mengukur besaran gaji, melainkan menggabungkan pelbagai indikator:
-
Kondisi fisik rumah dan fasilitas sanitasi.
-
Kepemilikan aset, barang elektronik, serta kendaraan.
-
Kondisi demografi dan tingkat pendidikan.
-
Status ketenagakerjaan dan kepemilikan usaha.
-
Akses terhadap fasilitas kesehatan dan sosial.
-
Mengapa Kelas Menengah Bisa Satu Kelompok dengan Miliarder?
BPS juga merespons pertanyaan warga mengenai alasan keluarga berpenghasilan sedang bisa berada di kelompok yang sama (Desil 10) dengan para konglomerat atau crazy rich.
Menurut BPS, populasi kelompok superkaya dengan kekayaan ekstrem sejatinya sangat kecil di piramida ekonomi. Ketika seluruh populasi dibagi menjadi 10 kelompok dengan jumlah yang relatif seimbang, keluarga kelas menengah atas secara otomatis akan menempati wadah yang sama di Desil 10 bersama kelompok miliarder.
Oleh karena itu, BPS mengimbau masyarakat untuk tidak menafsirkan Desil 9 dan 10 secara sederhana sebagai label "orang kaya", melainkan sebagai posisi relatif kondisi sosial ekonomi suatu keluarga dalam lingkup populasi nasional. (*)
Editor : Admin