Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.860, Pasar Menanti Keputusan BI-Rate

RADAR PATI - Rupiah bergerak terbatas pada awal perdagangan Rabu (19/8/2026). Nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.860 per dolar AS, menguat tipis dibandingkan penutupan sebelumnya Rp17.862 per dolar AS. Pergerakan tersebut mencerminkan sikap investor yang cenderung menahan diri sambil menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.
Perhatian pasar kini tertuju pada keputusan BI mengenai arah suku bunga acuan. RDG Bank Indonesia untuk Agustus 2026 dijadwalkan berlangsung pada 18–19 Agustus, sehingga keputusan mengenai BI-Rate menjadi salah satu faktor paling menentukan bagi pergerakan rupiah dan pasar keuangan domestik.
Penguatan rupiah pada pembukaan perdagangan belum cukup kuat untuk disebut sebagai perubahan tren. Selisih hanya Rp2 per dolar AS menunjukkan pasar masih menunggu katalis yang lebih besar, terutama keputusan bank sentral dan sinyal kebijakan yang akan menyertainya.
Pada RDG sebelumnya, 21–22 Juli 2026, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen. Suku bunga Deposit Facility juga tetap 4,75 persen, sedangkan Lending Facility berada di 6,50 persen. Saat itu, BI menegaskan kebijakan tersebut merupakan bagian dari bauran kebijakan untuk memperkuat stabilitas rupiah sekaligus menjaga inflasi tetap dalam sasaran.
Level 5,75 persen tersebut merupakan hasil kenaikan bertahap sepanjang 2026. BI menaikkan BI-Rate menjadi 5,25 persen pada Mei, kemudian menjadi 5,50 persen pada 9 Juni dan kembali naik 25 basis poin menjadi 5,75 persen pada 18 Juni. Setelah itu, BI memilih mempertahankannya pada rapat Juli.
Karena itu, keputusan terbaru BI bukan hanya soal mempertahankan atau mengubah suku bunga. Investor juga akan mencermati pernyataan bank sentral mengenai stabilitas nilai tukar, arus modal asing, inflasi, likuiditas pasar serta perkembangan ekonomi global.
Dari sisi domestik, kondisi inflasi memberikan ruang bagi BI untuk menjaga stabilitas kebijakan. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan Indonesia pada Juli 2026 sebesar 2,88 persen. Angka tersebut masih berada dalam kisaran sasaran inflasi pemerintah sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen. Inflasi inti tercatat 2,76 persen secara tahunan.
Selain inflasi, kondisi pertumbuhan ekonomi juga menjadi bagian penting dalam menentukan arah kebijakan. Bank Indonesia mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan, meski melambat dibandingkan pertumbuhan 5,61 persen pada kuartal sebelumnya.
Kombinasi inflasi yang masih berada dalam sasaran dan pertumbuhan ekonomi yang tetap positif membuat ruang kebijakan BI menjadi relatif lebih fleksibel. Namun, stabilitas rupiah tetap menjadi pertimbangan penting karena tekanan eksternal masih dapat berubah dengan cepat.



