Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Nisfu Sya'ban dalam Pandangan Gus Baha dan KH Maimoen Zubair

Abdul Rochim • Senin, 2 Februari 2026 | 19:17 WIB
Gus Baha (kiri) dan KH Maimoen Zubair (kanan). (sumber Radar Kudus)
Gus Baha (kiri) dan KH Maimoen Zubair (kanan). (sumber Radar Kudus)

RADAR PATI - Memasuki Syaban 1447 Hijriah, umat Islam sejatinya sedang berada di ambang Ramadhan.

Namun bagi masyarakat Jawa, bulan ini bukan sekadar penanda waktu menuju puasa. Syaban justru dikenal luas sebagai bulan Ruwah, fase yang sarat makna spiritual dan kultural.

Di bulan inilah doa-doa dipanjatkan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga ditujukan kepada para leluhur.

Ada keyakinan batin yang mengakar: hubungan antara yang hidup dan yang telah wafat dirajut kembali melalui doa, ziarah, dan sedekah.

Dari Syaban ke Ruwah: Penjelasan Mbah Moen

Asal-usul istilah Ruwah pernah dijelaskan oleh ulama kharismatik asal Rembang, almarhum KH Maimoen Zubair.

Penjelasan itu disampaikan kembali oleh muridnya, KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), dalam berbagai pengajian.

Menurut Gus Baha, sebutan Ruwah bukan istilah lokal yang muncul tanpa akar. Kata tersebut merupakan adaptasi dari bahasa Arab “arwah”, yang kemudian dilafalkan sesuai lidah Jawa.

“Mbah Moen menjelaskan, Ruwah itu serapan dari kata arwah. Artinya memang berkaitan dengan doa untuk orang-orang yang sudah wafat,” tutur Gus Baha, sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Kalam-Kajian Islam.

Dari sinilah Syaban dipahami sebagai bulan arwah—waktu khusus untuk memperbanyak doa, mengenang jasa leluhur, dan memperkuat ikatan batin lintas generasi.

Jejak Yaman dalam Tradisi Nusantara

Menariknya, praktik doa massal di bulan Syaban bukan hanya tradisi Jawa.

Gus Baha mengungkapkan, kebiasaan ini memiliki keterkaitan dengan tradisi Islam di Yaman.

Di negeri tersebut, Syaban dikenal sebagai waktu pelaksanaan haul Nabi Hud AS.

Momentum itu kemudian menginspirasi para ulama Nusantara untuk menghidupkan bulan Syaban dengan doa bersama dan tahlil bagi para arwah.

“Banyak tradisi Islam di Indonesia yang sanad budayanya tersambung ke Yaman. Termasuk kebiasaan menghidupkan Syaban dengan doa-doa,” jelas Gus Baha.

Akulturasi ini menunjukkan bagaimana Islam di Indonesia tumbuh melalui dialog antara ajaran global dan kearifan lokal, tanpa kehilangan substansinya.

Satu Makna, Banyak Nama

Baca Juga: Meneladani Amalan Sebelum Tidur Sesuai Anjuran Rasulullah SAW

Meski tujuannya sama, tradisi Ruwahan memiliki sebutan berbeda-beda di tiap daerah. Di Jawa Tengah dikenal istilah nyekar, di Jawa Timur disebut kosar, di tanah Sunda dikenal munggahan, sementara arwahan menjadi istilah umum untuk doa dan tahlil bersama.

Ragam nama itu memperlihatkan kekayaan ekspresi budaya, namun semuanya bermuara pada satu nilai: bakti kepada leluhur dan persiapan batin menyambut Ramadhan.

Bagi sebagian masyarakat, Ramadhan terasa kurang lengkap jika belum melewati fase Ruwah. Ziarah kubur, doa bersama, dan berbagi makanan menjadi simbol pembersihan diri sebelum memasuki bulan suci.

Spiritualitas yang Menggerakkan Ekonomi

Di balik kekhusyukan, bulan Ruwah juga membawa dampak nyata di sektor ekonomi.

Permintaan bunga tabur, makanan sedekah, hingga kebutuhan pokok meningkat. Pasar tradisional pun ikut menggeliat.

Fenomena ini menegaskan satu hal: tradisi keagamaan di Indonesia tidak hanya memperkuat spiritualitas, tetapi juga menghidupkan solidaritas sosial dan ekonomi masyarakat.

Syaban—atau Ruwah—akhirnya bukan sekadar nama bulan. Ia adalah ruang pertemuan antara doa, ingatan, budaya, dan kehidupan sehari-hari.

Sebuah jeda penuh makna sebelum Ramadhan benar-benar tiba. (*/him)

Editor : Abdul Rochim
#nisfu syaban menuru KH Maimoen Zubair #Nisfu Sya'ban #nisfu syaban menurut Gus Baha