PAGI di Desa Landoh tidak lagi tenang seperti biasanya.
Sejak fajar menyingsing, kabar mengejutkan telah menyebar dari mulut ke mulut.
Warga berlarian menuju kebun durian milik keluarga Sarini.
Suara gaduh terdengar di mana-mana, bercampur bisik-bisik penuh ketakutan.
“Branjung mati…!”
“Ditemukan di kebun…!”
“Katanya dibunuh…!”
Di tengah kerumunan, tubuh Branjung tergeletak kaku.
Kulit harimau yang semalam ia kenakan masih melekat di tubuhnya, membuat pemandangan itu terasa ganjil dan menyeramkan.
Sarini menangis histeris di samping jasad suaminya.
“Apa yang terjadi…? Siapa yang melakukan ini…?” teriaknya penuh duka.
Beberapa warga hanya saling pandang. Tidak ada yang berani menjawab.
Tak lama kemudian, Ki Lurah Wiratma datang bersama beberapa orang ronda. Wajahnya serius, sorot matanya tajam menyapu kerumunan.
“Siapa yang terakhir bersama Branjung?” tanyanya tegas.
Seorang warga maju pelan.
“Semalam… Saridin terlihat di kebun, Pak Lurah.”
Nama itu langsung membuat suasana berubah.
Beberapa orang mulai berbisik lebih keras.
“Panggil Saridin!” perintah lurah.
Tak lama, Saridin datang.
Langkahnya tenang.
Wajahnya datar, tanpa rasa panik.
Ia berdiri di depan jasad Branjung.
Menatapnya sejenak.
Lalu menghela napas pelan.
“Apakah kau yang melakukan ini?” tanya Ki Lurah Wiratma tajam.
Saridin menatap lurah.
“Aku membunuh harimau,” jawabnya singkat.
Warga mulai gaduh.
“Itu manusia!”
“Jelas itu Branjung!”
Lurah memberi isyarat agar semua diam.
“Lihat baik-baik,” katanya sambil menunjuk tubuh itu.
Kulit harimau dibuka.
Wajah Branjung terlihat jelas.
“Ini manusia. Kau membunuhnya.”
Saridin tetap tenang.
“Yang aku lihat… harimau,” jawabnya pelan.
Jawaban itu membuat suasana semakin tegang.
Beberapa orang mulai marah.
“Dia gila!”
“Dia pura-pura!”
Namun Saridin tidak bergeming.
Ki Lurah Wiratma menghela napas panjang.
Ia tahu kasus ini tidak bisa diselesaikan di tingkat desa.
“Kita bawa ke kadipaten,” putusnya.
“Biar Kanjeng Bupati yang menentukan.”
Saridin tidak melawan.
Ia hanya mengangguk.
Perjalanan menuju Kadipaten Pati berlangsung dalam diam.
Warga mengikuti dari belakang, penasaran dengan apa yang akan terjadi.
Sesampainya di pendapa, mereka disambut oleh Adipati Jayakusuma, Adipati Pati yang dikenal bijaksana.
Ia duduk tenang di kursinya, memperhatikan semua dengan mata tajam namun tenang.
“Apa yang terjadi?” tanyanya.
Ki Lurah Wiratma menjelaskan semuanya.
Tentang kebun durian.
Tentang kesepakatan.
Dan tentang kematian Branjung.
Adipati mengangguk pelan.
Lalu menatap Saridin.
“Apakah benar kau membunuh orang ini?”
Saridin menatap lurus.
“Aku membunuh harimau.”
Jawaban yang sama.
Tanpa ragu.
Adipati tersenyum tipis.
Ia mulai memahami bahwa lelaki di depannya bukan orang biasa.
“Kalau begitu,” katanya pelan,
“kita akan lihat dari sudut pandangmu.”
Semua orang terdiam.
“Menurutmu itu harimau?” lanjut bupati.
Saridin mengangguk.
Adipati berdiri.
Berjalan mendekati jasad.
“Kalau ini harimau… maka tidak ada kejahatan,” katanya.
Beberapa pejabat saling pandang, bingung.
Namun bupati melanjutkan, “Harimau memang pantas dibunuh.”
Warga mulai berbisik.
Lalu bupati menatap Saridin.
“Sebagai penghargaan… kau akan mendapat hadiah.”
Saridin menunduk hormat.
Adipati berkata dengan suara jelas.
“Omah loji ruji wesi… mangan diwenehi… ngombe diteteri.”
Beberapa orang tersenyum samar.
Mereka mengerti arti kalimat itu.
Namun Saridin hanya tersenyum tulus.
“Terima kasih, Kanjeng Adipati.”
Ia benar-benar percaya itu hadiah.
Tak lama, ia dibawa pergi.
Menuju sebuah bangunan besar dengan jeruji besi.
Penjara.
Ketika pintu besi ditutup. suara dentangnya menggema.
Namun Saridin tetap tenang.
Ia duduk bersila.
Menutup mata.
Seolah tempat itu bukan penjara.
Melainkan ruang sunyi untuk berbicara dengan dirinya sendiri.
Di luar, warga masih membicarakan keanehan itu.
“Kenapa dia tidak takut?”
“Kenapa dia tidak membela diri?”
“Kenapa bupati seperti itu?”
Tidak ada yang tahu.
Namun satu hal mulai terasa—
Saridin bukan lagi sekadar orang desa biasa.
Ada sesuatu dalam dirinya…
yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.
Dan penjara itu…
bukan akhir dari perjalanannya.
Justru…
awal dari keajaiban yang lebih besar. (*/3-bersambung)
Editor : Abdul Rochim