RADAR PATI - MALAM pertama di kebun durian itu terasa berbeda.
Langit gelap tanpa bulan. Hanya suara jangkrik yang bersahut-sahutan, bercampur dengan desir angin yang menggoyang daun-daun pohon durian tua.
Kebun itu luas, penuh bayangan, dan menyimpan kesunyian yang menekan dada.
Saridin melangkah perlahan memasuki area kebun. Di tangannya tergenggam sebatang bambu runcing yang ia bawa sebagai alat jaga diri.
Bukan karena takut, tetapi karena ia tahu malam selalu menyimpan hal yang tidak terduga.
Ia memilih duduk di bawah salah satu pohon besar.
Matanya menatap ke atas.
Menunggu.
Waktu berjalan lambat.
Angin bertiup semakin dingin.
Tiba-tiba—
“Duk!”
Suara benda jatuh terdengar jelas.
Saridin segera berdiri. Ia berjalan cepat ke arah suara itu.
Namun…
tidak ada apa-apa.
Tanah kosong.
Ia kembali ke tempat semula.
Menunggu lagi.
Beberapa saat kemudian—
“Duk!”
Suara itu kembali terdengar.
Lebih dekat.
Saridin berlari ke arah suara.
Namun hasilnya sama.
Kosong.
Alisnya sedikit berkerut.
Untuk pertama kalinya, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Ia tidak kembali duduk.
Kali ini ia memilih bersembunyi di balik semak, mengamati dalam diam.
Matanya tajam menembus kegelapan.
Beberapa menit berlalu.
Hening.
Lalu…
dari balik bayangan pohon, muncul sesuatu.
Seekor harimau.
Langkahnya pelan, tapi pasti.
Matanya berkilat dalam gelap.
Harimau itu mendekati pohon durian.
Tak lama kemudian—
“Duk!”
Sebuah durian jatuh.
Dengan cepat, harimau itu mengambil durian tersebut menggunakan mulutnya.
Saridin memperhatikan.
Napasnya tetap tenang.
Namun kini ia mengerti.
“Jadi ini caranya…” gumamnya pelan.
Ia tidak langsung bergerak.
Menunggu.
Mengamati.
Harimau itu kembali ke bawah pohon lain.
Seolah sengaja berpindah.
“Duk!”
Durian jatuh lagi.
Saat harimau itu lengah—
Saridin bergerak cepat.
Langkahnya ringan, hampir tanpa suara.
Dalam satu gerakan—
“Tusss!”
Bambu runcing itu ia tancapkan ke arah tubuh harimau.
Namun yang terjadi bukan auman.
“Arrrghhh!!!”
Suara manusia.
Saridin terkejut.
Ia mundur beberapa langkah.
Napasnya mulai tidak teratur.
Dengan tangan gemetar, ia mendekat.
Perlahan…
ia membuka kulit harimau itu.
Dan saat wajah itu terlihat—
Saridin membeku.
“Itu… Kang Branjung…”
Tubuhnya lemas.
Dunia seolah berhenti.
Branjung tergeletak tak bernyawa.
Masih mengenakan kulit harimau.
Saridin terduduk.
Ia tidak berniat membunuh manusia.
Ia hanya mempertahankan haknya.
Namun kenyataan tidak bisa diubah.
Angin malam berhembus lebih kencang.
Daun-daun berjatuhan.
Seolah menjadi saksi atas tragedi itu.
Saridin berdiri perlahan.
Matanya kosong.
“Aku tidak membunuh manusia…” bisiknya.
“Aku membunuh harimau…”
Namun ia tahu—
orang lain tidak akan melihatnya seperti itu.
Tanpa berpikir panjang, Saridin berlari meninggalkan kebun.
Langkahnya cepat.
Jantungnya berdegup keras.
Di kejauhan, suara anjing menggonggong.
Seolah mengabarkan sesuatu.
Malam itu…
bukan hanya menjadi malam pertama bagi Saridin menjaga kebun durian.
Tapi juga menjadi malam—
yang mengubah jalan hidupnya selamanya.
Di rumah, Sarini terbangun.
Ia merasa gelisah.
Seolah ada sesuatu yang terjadi.
Dan benar saja, tak lama kemudian, Saridin muncul di depan pintu.
Wajahnya pucat.
“Ada apa, Kang?” tanya Sarini panik.
Saridin menatap istrinya.
Lalu berkata pelan, “Semua… tidak seperti yang kita kira.”
Sarini memeluk anaknya erat.
Ia belum tahu…
bahwa esok hari, seluruh desa akan gempar.
Dan nama Saridin…
akan mulai dikenal bukan sebagai orang biasa.
Tapi sebagai sosok yang membawa misteri. (*/2-bersambung)
Editor : Abdul Rochim