Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Kopi Muria Jadi Incaran! Harga Naik Drastis Hingga Rp 70 Ribu per Kilogram

Fikri Thoharudin • Kamis, 22 Agustus 2024 | 21:30 WIB
UNTUNG: Petani Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kudus mulai panen kopi beberapa waktu lalu. (FIKRI THOHARUDIN/RADARPATI.ID)
UNTUNG: Petani Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kudus mulai panen kopi beberapa waktu lalu. (FIKRI THOHARUDIN/RADARPATI.ID)

KUDUS, RADARPATI.ID – Memasuki masa panen, harga kopi muria mengalami peningkatan harga. Bahkan mengalami kenaikan hingga dua kali lipat dari harga sebelumnya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Perkebunan, Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kudus Agus Setyawan mengatakan, saat ini harga kopi basah dijual Rp 70 ribu per kilogram, berbeda dengan harga sebelumnya dijual Rp 28-33 ribu per kilogram.

Sedangkan kopi kering atau green bean dijual Rp 115 ribu per kilogram dan kopi panen rampak seharga Rp 50 ribu per kilogram.

Ia menyebut, kenaikan harga kopi terjadi pada jenis kopi robusta yang ditanam di Pegunungan Muria.

”Saya lihat kualitas kopi semakin bagus dan harga akan terus merangkak naik,” katanya kemarin.

Ia menerangkan, kenaikan harga kopi disebabkan cuaca dan curah hujan yang mendukung.

Menurutnya, tahun ini curah hujan di dataran tinggi lebih intens terjadi. Sehingga membantu masa pertumbuhan kopi.

Situasi yang lebih lembab membuat tanaman kopi menghasilkan bunga dan kopi yang lebih banyak.

”Diperkirakan produktivitas kopi juga mengalami peningkatan. Karena melihat cuaca yang bagus,” tegangnya.

Melihat potensi tersebut, imbuhnya beberapa petani mulai berlomba- lomba memanen kopi lebih awal. Terutama di wilayah Desa Colo dan Japan Kecamatan Dawe.

Sedangkan di wilayah penghasil kopi lainnya sedang masa berbunga dan berbuah.

Sementara ini dari luas lahan 700 hektare tanaman kopi yang tumbuh di Pegunungan Muria, baru 10-15 persen yang telah melakukan panen.

”Perkiraan masa panen kopi terjadi hingga September-Oktober, karena masih dalam masa berbunga,” imbuhnya.

Beberapa petani dijual ke tengkulak dan dalam bentuk kemasan siap saji. Mereka memiliki konsumen dan jaringan pasar tetap.

Peminatnya tidak hanya dari wilayah lokal, melainkan menyebar hingga ke luar pulau Jawa. Seperti, Kalimantan, Sumatera, dan lain-lain. (wat/him)

Editor : Alfian Dani
#bappeda kudus #kopi muria #kopi muria kudus #kopi #kudus #Kabupaten Kudus #petani kopi #Jadi Incaran #kopi robusta #harga naik