KUDUS, RADARPATI.JAWAPOS.COM – Uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan metode prasmanan di Kabupaten Kudus mendapat respons positif.
Selama dua pekan pelaksanaan, siswa dan guru di dua sekolah dasar (SD) negeri yang menjadi lokasi uji coba disebut menyukai metode penyajian tersebut.
Wakil Bupati Kudus Bellinda Birton mengatakan, metode prasmanan memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan penyajian makanan menggunakan kotak.
Salah satunya, makanan dapat disajikan lebih hangat dan segar karena siswa mengambil langsung saat waktu makan.
Baca Juga: PKB Kudus Kenang Fathan Subchi sebagai Mr No Problem
“Kalau misalkan kita di kotak, kita butuh waktu lagi untuk packing, jadi makannya mungkin sudah dingin. Sedangkan kalau prasmanan, anak-anak ambil sendiri, jadi makannya masih hangat, masih lebih fresh,” ujarnya.
Uji coba tersebut menyasar siswa kelas V dan VI di dua SD negeri yang berada di Kecamatan Kaliwungu dan Mejobo.
Pelaksanaannya menjadi bahan evaluasi untuk melihat efektivitas metode prasmanan dalam mendukung program MBG di sekolah.
Selain menjaga kualitas makanan, metode prasmanan dinilai berpotensi mengurangi sisa makanan.
Siswa dapat mengambil makanan sesuai kebutuhan sehingga tidak harus menghabiskan porsi yang sudah dikemas dalam kotak apabila tidak sesuai dengan selera mereka.
Metode tersebut juga memberi keleluasaan bagi siswa yang memiliki alergi terhadap makanan tertentu untuk menghindari menu pemicu alergi.
Baca Juga: Satgas MBG Jepara Soroti Kepala SPPG Jarang di Dapur
Meski demikian, pengawasan dan informasi mengenai kandungan makanan tetap diperlukan agar kebutuhan gizi siswa terpenuhi dan keamanan pangan terjaga.
Bellinda menyebut, penerapan metode prasmanan masih memerlukan persiapan dan sosialisasi.
Kesiapan petugas pendamping, pihak sekolah, serta mekanisme pembagian makanan perlu diperhatikan agar pelaksanaannya berjalan tertib.
Menurutnya, penerapan metode ini juga perlu mempertimbangkan usia siswa. Anak kelas I dan II memiliki kebutuhan pendampingan yang berbeda dibandingkan siswa kelas atas. Karena itu, mekanisme prasmanan untuk jenjang kelas rendah masih perlu dikaji lebih lanjut.
Pemkab Kudus juga masih menunggu arahan pemerintah pusat mengenai kelanjutan uji coba tersebut, termasuk kemungkinan penerapan metode prasmanan pada jenjang pendidikan yang lebih luas.
“Nanti perlu kita kaji ulang atau perlu kita audiensi ke pusat untuk pelaksanaan MBG prasmanan di kelas I atau II, atau mungkin nanti yang prasmanan dari kelas V sampai SMA, yang kelas I sampai kelas IV mungkin masih kotakan atau bagaimana. Kita tunggu arahan dan informasi dari pusat,” jelasnya.
Bellinda menegaskan, pemerintah daerah siap menindaklanjuti kebijakan sesuai ketentuan yang ditetapkan pemerintah pusat.
Dengan demikian, penerapan metode prasmanan secara lebih luas masih menunggu hasil evaluasi dan keputusan resmi.
Ia menambahkan, keberhasilan uji coba tidak hanya dilihat dari respons siswa dan guru, tetapi juga perlu memperhatikan kebersihan, kualitas bahan makanan, serta proses pengolahan dan penyajian.
“Yang terpenting yang perlu saya tekankan bahwa MBG metode prasmanan di Kabupaten Kudus dalam masa uji coba kemarin alhamdulillah berhasil dan anak-anak juga suka, Bapak Ibu guru juga suka,” katanya.
Hasil uji coba selama dua pekan tersebut menjadi bahan pertimbangan bagi Pemkab Kudus dalam mengevaluasi metode penyajian MBG.
Meski mendapat respons positif, keputusan mengenai kelanjutan dan perluasan penerapan prasmanan tetap menunggu arahan pemerintah pusat.(zha)
Editor : Abdul Rochim