IRONIS! Muh Sholikhin Buruh Serabutan di Kudus Masuk Desil 8, Tak Pernah Dapat Bansos

Indah Susanti • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:40 WIB

RUMAH KECIL: Atminah bersama anaknya (kiri) bersama Sholikin suaminya saat duduk di depan rumah. (INDAH SUSANTI/RADAR PATI)
RUMAH KECIL: Atminah bersama anaknya (kiri) bersama Sholikin suaminya saat duduk di depan rumah. (INDAH SUSANTI/RADAR PATI)

KUDUS -  Muhammad Sholikin warga Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo mengeluh tak pernah mendapatkan bantuan sosial (bansos). Ia bercerita kondisi ekonomi keluarga yang ditanggungnya sangat memprihatinkan. 

Pekerjaannya yang tak menentu (serabutan) dan istri sebagai buruh pabrik, untuk menopang biaya hidup sehari-hari dari penghasilan yang didapatnya kurang.

Sholikin memiliki dua anak yang masih duduk dibangku kelas XII MA dan kelas III MI. Ia mengatakan, tak pernah mendapatkan bansos apapun, baik itu PKH maupun Sembako.

Baca Juga: Safari Literasi di Kudus, Guru SMP Dilatih Menulis Fiksi Mini

Sudah berkali-kali diminta mengumpulkan kartu keluarga (KK) oleh RT setempat, namun bantuan juga tak kunjung ada.

”Saya buruh lepas nuthuk watu. Kadang kerja kadang tidak. Kalau pas tidak ada kerjaan saya mencari ikan, kemudian saya jual satu embor (untuk kajatan) Rp 20 ribu jenis bervariasi ada udang, ikan wader dan lainnya. Kalau pas ada panggilan kerja, lumayan sehari bisa dapat Rp 100 ribu. Itupun tidak tiap hari, bisa berubah Rp 80 ribu, mulai bekerja dari pukul 08.00 hingga pukul 16.00,” ujarnya.

Atminah istri Sholikin, bekerja sebagai buruh rokok. Namun, 2,5 tahun ini kondisi kesehatan Atminah menurun karena penyakit vertigo. Ia mengatakan, tiap dua minggu sekali diberi cuti tiga hari oleh dokter, demi menjaga kestabilan kesehatan Atminah.

”Ya, kalau tidak kerja dua-duanya, anak-anak saya belikan mie instan. Meski orangtuanya tidak makan, yang penting anak-anak makan,” terangnya.

Atminah sebagai buruh borong di pabrik rokok. Ia mengaku, kalau kondisi badannya sehat “garapan” lebih dari seribu bisa mendapatkan uang Rp 50 ribu lebih. Kalau kondisinya kurang baik, maka hanya membawa uang Rp 40 ribu.

”Ya, penghasilan saya buat beli beras  1 kilogram, untuk lauk ya terkadang tempe. Kalau ikan bisa hasil “Yerok” bapaknya,” kata Atminah.

Menjalani ekonomi sulit dan tak pernah dapat bantuan Sholikin mendatangi Dinsos P3AP2KB Kudus, dengan tujuan bertanya cara mengajukan bantuan.

Kemudian, dibantu petugas Dinsos setelah dicek pada aplikasi Cekbansos ternyata Sholikin masuk Desi 8.

”Saya itu tidak paham desil. Ya saat dijelaskan petugas Dinsos Desil 8 itu tergolong orang mampu. Saya kan kaget kok bisa masuk Desil 8, padahal kehidupan saya sehari-hari makan saja susah,” kata Sholikin.

Kemudian, dari petugas Dinsos membantu Sholikin untuk melakukan pembaharuan desil. Ia mendatangi kantor Dinsos 5 Agustus 2026 lalu.

Dan, mendapakan surve dari petugas pendamping PKH Jumat (21/8) 2026, karena dari Kemensos baru mengirimkan surat untuk melakukan surve.

Melihat langsung kondisi rumah Sholikin cukup memprihatinkan. Ukuran rumah yang tergolong kecil dengan fasilitas dua kamar tidur.

Dan, satu kamar yang seharusnya untuk tempat tidur dijadikan kamar mandi, karena sudah tidak ada ruang lagi.

Rumah dari luar belum plester masih batu bata. Kemudian, kamar mandi yang tak semestinya, sehingga hanya menggunakan satu ember ukuran besar untuk menampung air yang digunakan mandi.

Sholikin juga mengaku, untuk jamban mendapatkan bantuan dari CSR perusahaan rokok sekitar 2025. Sebelumnya sama sekali tidak memiliki jamban dan kamar mandir.

Ia bersama anggota keluarga lainnya kerap kali mengungsi di rumah saudaranya atau pergi mandi ke kali dekat rumah.

”Saya itu jamban saja dapat bantuan, bisa masuk Desil 8. Dan, tidak pernah juga didatangi petugas surve ekonomi sebelumnya. Baru, dua minggu lalu ada petugas surve datang,” kata Sholikin.

Ia juga mengeluh, membayar sekolah kedua anaknya saat ini menunggak dua bulan. Sholikin berharap setelah dilakukan surve dari Dinsos P3AP2KB ada perubahan desil dan bisa mendapatkan bantuan.

Sementara itu, Isna Ro’ihatul Miskiyah anak kedua Sholikin mengatakan, tak pernah melihat TV karena tak punya. Ia mengatakan, ada TV tabung tapi rusak. Namun, ia sudah terbiasa tak melihat TV.

Sementara itu, petugas pendamping PKH Dinsos P3AP2KB Kudus Niken, mengatakan baru kali ini ada warga yang benar-benar tidak mampu tapi bisa masuk Desil 8. Ia mengatakan, pembaharuan desil bisa dilakukan.

Masyarakat bisa datang ke kantor Dinsos P3AP2KB Kudus apabila ingin cek berada di desil berapa atau ingin melakukan pembaharuan desil.

”Ya pembaharuan desil nanti akan di proses Kemensos, lalu menunggu pemberitahuan untuk bisa dilakukan surve. Tetap ada surve ke rumah, seperti bapak Sholikin ini contohnya, melaporkan dengan kondisi riil rumah,” terang Niken. (san)

 

Editor : Abdul Rochim
Desil 8 warga Tanjungrejo bantuan sosial dinsos kudus