KUDUS – Jalur sepeda yang baru selesai dibangun di kawasan Alun-alun Simpang Tujuh hingga Jalan Jenderal Soedirman, Kabupaten Kudus, menjadi sorotan publik setelah sebuah video di media sosial memperlihatkan sebagian lintasan tersebut digunakan pedagang kaki lima (PKL) dan parkir sepeda motor.
Video itu viral dan memicu ratusan komentar dari warganet yang menilai fungsi jalur sepeda belum berjalan optimal.
Video tersebut diunggah akun TikTok @tashiyaaa13 pada Sabtu (25/7). Dalam rekaman itu, pemilik akun merekam pengalamannya saat bersepeda melintasi jalur sepeda baru di pusat Kota Kudus.
Baca Juga: Tercium Bau Menyengat, Pria Asal Demak Ditemukan Meninggal di Kamar Kos Kudus
Tayangan tersebut telah ditonton lebih dari 100 ribu kali dan mendapat lebih dari 200 komentar.
Melalui keterangan videonya, pengunggah memgaku sempat mengapresiasi keberadaan jalur sepeda yang baru dibangun.
Namun, ia menyayangkan karena sebagian lintasan justru masih ditempati PKL di kawasan Alun-alun Simpang Tujuh serta digunakan sebagai lokasi parkir sepeda motor di beberapa titik Jalan Jenderal Soedirman.
“Selama tinggal di Jogja, aku berpikir kapan ya Kudus ada jalur sepeda? Padahal bupatinya suka bersepeda. Hari ini aku bersepeda lagi di Kudus dengan first impression, wah Simpang 7 sekarang sudah ada jalur sepeda, keren. Tapi kok masih pada jualan dan parkir di jalur sepeda? Percuma ada jalurnya kalau dipakai yang bukan semestinya, lalu apa bedanya dengan sebelum dan sesudah ada jalur sepeda?” tulis pemilik akun dalam unggahannya.
Baca Juga: Penerangan Jalan Tenaga Surya Terangi Perbatasan Kudus, Ditarget Menyala Agustus 2026
Sebagai informasi, jalur sepeda di kawasan Simpang Tujuh dan Jalan Jenderal Soedirman merupakan fasilitas baru yng pembangunannya dimulai pada awal Juli 2026 bersamaan dengan perbaikan marka jalan. Jalur tersebut rampung sekitar sepekan lalu.
Sebelum jalur sepeda dibuat, lokasi tersebut memang telah lama digunakan sebagai area aktivitas PKL dan parkir kendaraan.
Kepala Bidang Keselamatan dan Sarana Prasarana Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus, Sahri Noto Utomo, mengatakan kondisi tersebut akan menjadi bahan evaluasi bersama lintas instansi agar jalur sepeda dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
Menurutnya, keberadaan PKL maupun oarkir yang masuk ke area jalur sepeda akan dibahas melalui koordinasi antara Dishub, Satpol PP, Polres Kudus, hingga Dinas Perdagangan.
“Ada PKL dan parkir motor yang terkena jalur sepeda. Nanti kami bersama semua OPD terkait akan melakukan koordinasi agar jalur sepeda ini bisa maksimal digunakan. Seharusnya memang disesuaikan dengan gambar atau marka yang ada di lokasi,” ujarnya, Rabu (29/7).
Ia menambahkan, penegakan dan penertiban nantinya menjadi kewenangan bersama, termasuk Polres Kudus dan Satpol PP.
Selain itu, evaluasi juga akan dilakukan sebelum pemerintah menambah jalur sepeda di lokasi lain agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.
Baca Juga: Hari Pertama Pertukaran Pelajar di Kudus, Siswa SD Langsung Belajar Rebana di SD 4 Loram Kulon
Sementara itu, Kepala Bidang PKL Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus, I’in Vestriaswari, memastikan pihaknya akan melakukan penataan terhadap PKL yang terdampak jalur sepeda.
Penataan dilakukan agar aktivitas ekonomi pedagang tetap berjalan tanpa mengurangi hak pengguna sepeda.
“Nanti kami lakukan penataan agar PKL masih bisa berjualan dan pengguna sepeda bisa menikmati bersepeda dengan aman dan nyaman di jalurnya. Kami akan sidak langsung ke titik-titik mana saja yang terkena. Kalau memungkinkan bisa dimundurkan yang agak menjorok, ya akan kami mundurkan agar sama-sama nyaman,” katanya.
Ia menegaskan, Dinas Perdagangan selama ini juga terus mengingatkan para PKL agar tetap tertib berjualan demi menjaga ketertiban ruang publik dan kenyamanan seluruh pengguna jalan.
Sementara itu, salah satu pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Alun-alun Simpang Tujuh, Prapti, mengaku siap mengikuti arahan pemerintah terkait penataan lapak agar tidak mengganggu fungsi jalur sepeda.
Pedagang yang telah berjualan selama 25 tahun itu mengatakan dirinya tidak keberatan apabila diminta menggeser atau memundurkan lapaknya demi memberikan ruang bagi pesepeda.
“Kami siap mengikuti arahan dari dinas. Kalau disuruh geser atau mundur ya kami geser,” ujarnya.
Prapti menambahkan, para pedagang telah menerima imbauan pada Rabu (29/7) untuk sedikit memundurkan lapak agar tidak terlalu memakan jalur sepeda yang baru selesai dibangun.
Menurutnya, imbauan tersebut diberikan menyusul ramainya unggahan di TikTok yang menyoroti keluhan masyarakat terkait penggunaan jalur sepeda di kawasan tersebut. (dik)
Editor : Abdul Rochim