
KUDUS – Lentog Tanjung masih menjadi salah satu kuliner khas Kudus yang tak lekang oleh waktu.
Cita rasanya yang khas membuat makanan tradisional ini tetap menjadi favorit warga lokal maupun para perantau yang pulang ke Kota Kretek.
Hal itu juga dirasakan istri Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, Endhah Endhayani.
Perempuan yang akrab disapa Bunda Iin itu menyempatkan diri menikmati Lentog Tanjung usai menjalankan tugas sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kudus dalam kegiatan penanganan stunting.
Baca Juga: Terminal Getas Pejaten Kudus Disiapkan Jadi Hub Trans Jekuti, Pemkab Targetkan Penataan Mulai 2027
Bunda Iin memilih menikmati Lentog Tanjung di Warung Pak Ndek, Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati. Warung legendaris tersebut telah berdiri sejak 1952 dan dikenal sebagai salah satu pelopor Lentog Tanjung di Kudus.
"Saya sudah cukup lama tidak makan Lentog Tanjung. Makanan ini tidak ada di daerah lain, enak sekali rasanya," ujarnya.
Menurutnya, kelezatan Lentog Tanjung terletak pada perpaduan lontong berukuran besar atau yang biasa disebut lentog dengan sayur gori, kuah lodeh, serta taburan bawang goreng yang menghasilkan cita rasa gurih dan khas.
Penyajiannya di atas daun pisang juga memberikan aroma yang semakin menggugah selera.
Ia mengaku kuliner tradisional tersebut memiliki cita rasa yang sulit ditemukan di daerah lain.
Karena itu, Lentog Tanjung dinilai layak menjadi salah satu kuliner yang wajib dicoba wisatawan saat berkunjung ke Kudus.
Bunda Iin juga mengapresiasi hadirnya Lentog Tanjung dalam kemasan kaleng.
Menurutnya, inovasi tersebut menjadi solusi bagi warga Kudus yang tinggal di luar daerah untuk melepas rindu terhadap masakan kampung halaman.
Baca Juga: Jembatan Garuda di Tanjungrejo Kudus Rampung, Permudah Angkut Hasil Panen dan Dongkrak Ekonomi Warga
"Yang kemasan kaleng itu sebagai obat untuk orang Kudus yang tinggal di luar Kudus. Tapi kalau ke Kudus tetap harus makan langsung yang fresh dari penjualnya seperti ini," katanya.
Sementara itu, pemilik Warung Pak Ndek generasi ketiga, Asfiatun, mengatakan cita rasa Lentog Tanjung di warungnya tetap dipertahankan sesuai resep keluarga yang diwariskan sejak generasi pertama.
Ia mulai mengelola penuh usaha keluarga tersebut sejak 2003. Sebelumnya, warung sempat dikelola oleh kakaknya sebagai generasi kedua.
"Yang khas dari Lentog Tanjung itu lontongnya berukuran besar, itulah yang dinamakan lentog. Kemudian dipadukan dengan sayur gori, kuah lodeh, dan bawang goreng yang rasanya khas dan berbeda dari yang lain," jelasnya.
Selain Lentog Tanjung, warung tersebut juga menyediakan aneka pelengkap seperti sate telur puyuh, sate jeroan, gorengan, hingga kerupuk.
Asfiatun mengungkapkan, akhir pekan menjadi waktu paling ramai. Pengunjung tidak hanya berasal dari Kudus, tetapi juga dari berbagai daerah di luar kota yang sengaja datang untuk mencicipi kuliner legendaris tersebut.
"Kalau ramai biasanya hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Banyak yang datang dari Kudus maupun luar daerah," tandasnya. (san)
Editor : Abdul Rochim