Hari Anak Nasional, Kasus Stunting di Kudus Turun Drastis dari 13 Persen Menjadi 3,7 Persen

Indah Susanti • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 10:29 WIB

DIPERIKSA: Balita usia 2 tahun saat di lakukan pemeriksaan dan timbang berat badan oleh tim medis. (INDAH SUSANTI/RADAR PATI)
DIPERIKSA: Balita usia 2 tahun saat di lakukan pemeriksaan dan timbang berat badan oleh tim medis. (INDAH SUSANTI/RADAR PATI)

KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus mencatat penurunan signifikan angka stunting bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional 2026. 

Prevalensi stunting yang sebelumnya mencapai sekitar 13 persen kini turun menjadi 3,7 persen.

Capaian tersebut menjadi hasil dari percepatan penanganan stunting yang selama ini menjadi salah satu program prioritas Pemkab Kudus melalui kolaborasi berbagai pihak.

Baca Juga: Endhah Sam'ani Cek Langsung Tumbuh Kembang Balita, Kawal Kudus Menuju Zero Stunting

Pendampingan dilakukan secara rutin dengan melibatkan puskesmas, fasilitas kesehatan, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Tim Penggerak PKK, pemerintah desa, hingga pemerintah kecamatan.

Program tersebut difokuskan pada pencegahan stunting sejak masa kehamilan melalui edukasi kepada keluarga, pemeriksaan kesehatan ibu hamil, serta pemantauan tumbuh kembang balita secara berkala.

Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Kudus, Darini, mengatakan pencegahan stunting harus dimulai sejak awal kehamilan atau bahkan sejak masa konsepsi.

"Ibu hamil kami kawal agar tidak terjadi stunting. Pencegahan dilakukan sejak konsepsi hingga anak berusia dua tahun atau selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan," ujarnya.

Baca Juga: Revitalisasi Pasar Kliwon Kudus Kembali Molor, Pengerjaan Ditarget Dimulai Akhir Juli

Menurut Darini, kondisi kesehatan ibu selama hamil menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan tumbuh kembang anak.

Karena itu, tenaga kesehatan secara rutin melakukan pemeriksaan guna mendeteksi berbagai faktor risiko sedini mungkin, termasuk memantau status gizi ibu hamil.

"Salah satu indikatornya bisa dilihat dari lingkar lengan atas ibu hamil. Kalau kurang dari 23,5 sentimeter memang belum tentu menyebabkan stunting, tetapi risikonya lebih tinggi," jelasnya.

Ia menambahkan, ibu hamil yang mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK) maupun anemia memerlukan perhatian khusus karena kedua kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko stunting pada anak.

Selain status gizi, kenaikan berat badan selama kehamilan juga menjadi indikator penting yang terus dipantau oleh tenaga kesehatan.

Menurutnya, ibu hamil idealnya mengalami kenaikan berat badan sekitar 12 kilogram selama masa kehamilan.

Jika kenaikannya kurang dari angka tersebut, ibu akan mendapatkan pendampingan lebih lanjut.

Pemantauan tidak berhenti setelah bayi lahir. IBI bersama tenaga kesehatan terus mengawasi pertumbuhan balita melalui kegiatan Posyandu dengan mengukur berat badan, tinggi badan.

Selai itu juga mencocokkannya dengan grafik pertumbuhan sesuai usia anak.

Anak dinyatakan lepas dari stunting ketika grafik pertumbuhan dan perkembangannya sudah sesuai dengan usianya. 

"Hal itu dapat dipantau melalui Posyandu dengan melihat berat badan dan indikator pertumbuhan lainnya," terangnya.

Darini menegaskan, edukasi kepada keluarga, pemantauan kesehatan ibu hamil, serta pengawasan tumbuh kembang balita secara berkelanjutan menjadi kunci dalam mewujudkan target Zero Stunting di Kabupaten Kudus.

Melalui sinergi lintas sektor, Pemkab Kudus berharap angka stunting dapat terus ditekan sehingga lahir generasi yang sehat, cerdas, dan memiliki kualitas sumber daya manusia yang lebih baik. (san)

Editor : Abdul Rochim
stunting Kudus IBI Kudus Zero Stunting Kudus penurunan stunting Kudus hari anak nasional