KUDUS – Keluhan warga terkait langes atau jelaga dari aktivitas Pabrik Gula (PG) Rendeng akhirnya mendapat tanggapan dari manajemen perusahaan.
PG Rendeng mengakui terjadi peningkatan emisi pada awal musim giling 2026 akibat gangguan pada sistem pengendalian emisi yang diperparah meningkatnya kapasitas produksi.
Perusahaan pun menyampaikan permohonan maaf dan menargetkan penurunan emisi hingga 80 persen melalui sejumlah perbaikan teknis.
Baca Juga: TPA Tanjungrejo Kudus Segera Terapkan Controlled Landfill, Penataan Ditarget Rampung Akhir Juli
Kepala Desa Rendeng Muhammad Yusuf mengatakan, keluhan masyarakat mulai bermunculan pada akhir Juni 2026.
Warga mengaku hampir setiap hari mendapati jelaga beterbangan hingga masuk ke dalam rumah.
Keluhan disampaikan melalui grup WhatsApp maupun forum RT dan RW karena dinilai mengganggu kebersihan lingkungan dan menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan.
Aduan tersebut kemudian diteruskan kepada pihak PG Rendeng dan dilaporkan kepada Bupati Kudus.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Kabupaten Kudus bersama pemerintah desa melakukan pengecekan langsung ke area pabrik.
"Hasil pengecekan menunjukkan ada kerusakan pada bagian penyaringan cerobong. Karena kapasitas produksi meningkat saat musim giling, jumlah langes yang keluar juga jauh lebih banyak dibanding biasanya," ujar Yusuf.
Menurutnya, fenomena langes sebenarnya sudah terjadi setiap musim giling.
Namun, tahun ini intensitasnya meningkat sehingga berdampak hingga permukiman warga di Desa Rendeng maupun desa sekitar.
Meski demikian, ia mengapresiasi masyarakat yang memilih menyampaikan aspirasi secara tertib tanpa aksi anarkis.
"Warga hanya berharap kerusakan segera diperbaiki sehingga langes tidak lagi masuk ke permukiman," tambahnya.
Manager Keuangan dan Umum PG Rendeng Ahmad Zuhri menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami masyarakat.
Ia menjelaskan target giling PG Rendeng tahun ini mencapai sekitar 4 juta kuintal tebu, lebih tinggi dibanding musim giling sebelumnya.
Peningkatan produksi membuat beban kerja boiler bertambah sehingga emisi yang dihasilkan ikut meningkat.
Selain itu, kondisi musim kemarau menyebabkan partikel jelaga lebih mudah terbawa angin ke wilayah permukiman, terutama di Desa Rendeng dan Pedawang yang berada di sisi barat pabrik.
Sebagai langkah penanganan, perusahaan melakukan optimalisasi sistem pengendalian emisi melalui penyempurnaan peralatan, pemasangan mesh atau jaring penyaring, pemasangan sistem spray (pengabutan air), serta penyesuaian operasional Air Dust Fan (ADF).
"Kami menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi. Seluruh laporan yang masuk menjadi perhatian serius dan terus kami tindak lanjuti sebagai bahan evaluasi perusahaan," kata Ahmad Zuhri.
PG Rendeng juga berkomitmen meningkatkan koordinasi dengan pemerintah desa apabila terjadi gangguan operasional agar informasi dapat segera diteruskan kepada masyarakat.
Sementara itu, Staf Teknik PG Rendeng Moh Hidayat menjelaskan perusahaan telah mengoptimalkan kinerja Electrostatic Precipitator (ESP) sebagai alat utama penangkap partikel jelaga melalui penyetelan ulang agar daya tangkap lebih maksimal.
Perusahaan juga memasang mesh tambahan di sekitar rotary dust collector, menyiapkan sistem spray untuk menangkap partikel halus, serta menyesuaikan pengaturan Air Dust Fan agar proses pembakaran tetap optimal tanpa mengurangi kapasitas produksi.
Selain itu, penyemprotan rutin dilakukan pada tumpukan abu di area pabrik untuk mencegah debu kembali beterbangan saat cuaca panas dan angin kencang.
"Dari evaluasi sementara, langkah yang kami lakukan telah mampu menurunkan emisi sekitar 60 persen. Dengan penambahan mesh dan sistem spray, kami menargetkan reduksi emisi dapat mencapai sekitar 80 persen selama musim giling berlangsung," ujar Hidayat. (*/him)