Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Pentas Teater Sesat Arah, Mahasiswa di Kudus Kisahkan Kehilangan dan Pencarian Jati Diri

Andika Trisna Saputra • Kamis, 9 Juli 2026 | 19:03 WIB
 PENTAS: Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muria Kudus menampilkan bakatnya dalam pentas teater di Gedung Auditorium, Rabu (8/7) malam. (PBSI UMK UNTUK RADAR PATI)
PENTAS: Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muria Kudus menampilkan bakatnya dalam pentas teater di Gedung Auditorium, Rabu (8/7) malam. (PBSI UMK UNTUK RADAR PATI)

KUDUS – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muria Kudus (UMK) kembali menunjukkan kreativitasnya melalui pementasan teater bertajuk Sesat Arah di Gedung Auditorium UMK, Rabu (8/7) malam.

Pertunjukan yang digarap Kelompok Teater Jessy Segitiga tersebut mengadaptasi novel Partikel karya Dee Lestari dengan menghadirkan tafsir baru tentang kehidupan, kehilangan, dan hubungan manusia dengan alam.

Berbeda dari adaptasi pada umumnya, Sesat Arah tidak sekadar memindahkan isi novel ke atas panggung.

Pementasan ini menghadirkan interpretasi baru yang mengajak penonton merenungkan pencarian jati diri, makna kehidupan, hingga pentingnya menjaga keterhubungan manusia dengan lingkungan.

Baca Juga: Dualisme Dekopinda Kudus Belum Usai, Upaya Penyatuan Masih Buntu

Cerita berpusat pada tokoh Zara yang harus menghadapi kehilangan sang ayah, Firas, sosok yang selama ini menjadi panutan dalam memandang kehidupan.

Kepergian ayahnya menjadi titik balik yang membawa Zara memulai perjalanan panjang mencari jawaban atas berbagai pertanyaan hidup.

Perjalanan tersebut membawanya menjelajahi berbagai ruang kehidupan, mulai dari desa, kota, hingga hutan, yang kemudian menjadi simbol pencarian makna dan proses pendewasaan diri.

Pementasan menggunakan konsep panggung arena sehingga interaksi antara pemain dan penonton terasa lebih dekat.

Adegan-adegan emosional dipadukan dengan humor segar, membuat alur cerita tetap mudah diikuti meski mengangkat tema-tema filosofis.

Berbagai simbol alam seperti bambu, hutan, dan kehadiran hewan turut memperkuat pesan mengenai pentingnya hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan.

Sutradara Kelompok Teater Jessy Segitiga menegaskan bahwa Sesat Arah bukan salinan utuh dari novel Partikel.

Adaptasi tersebut justru menjadi ruang untuk menghadirkan relevansi baru antara karya sastra, dunia pendidikan, realitas sosial, dan pengalaman para pemain yang seluruhnya merupakan calon guru.

"Teater bukan sekadar pertunjukan, tetapi cara membaca kehidupan. Sebagaimana partikel, kami ingin menghadirkan ruang penafsiran ulang atas berbagai persoalan manusia," ujarnya.

Ia menjelaskan, penggunaan unsur-unsur lingkungan menjadi bagian penting dalam proses adaptasi.

Menurutnya, gagasan "sesat arah" lahir dari keyakinan bahwa perjalanan menemukan makna hidup tidak selalu berjalan lurus.

"Sesat bukan berarti gagal menemukan arah. Ia justru menjadi keberanian memasuki wilayah baru. Yang terpenting bukan sekadar tujuan, melainkan proses dalam setiap langkah yang ditempuh," tegasnya.

Ia menambahkan, pertunjukan tersebut tidak memberikan satu kesimpulan mutlak, tetapi memberi kebebasan kepada penonton untuk menafsirkan sendiri pengalaman yang disaksikan.

Salah seorang pemeran, Suhaibatul Musdalifah, mengaku mendapatkan pengalaman berharga selama proses latihan hingga pementasan.

Menurutnya, teater menjadi media yang efektif bagi mahasiswa pendidikan untuk melatih empati dan memahami karakter orang lain.

"Awalnya cukup kaget karena harus memainkan dua karakter sekaligus. Tetapi setelah pendalaman karakter, saya baru mendapatkan feel-nya. Sangat menyenangkan bisa berproses dan berteater bersama teman-teman," ungkapnya.

Suhaibatul berharap pesan yang disampaikan dalam pertunjukan mampu menginspirasi masyarakat agar hidup lebih selaras dengan alam dan sesama.

Menurutnya, kebahagiaan tidak harus diraih dengan merusak lingkungan karena manusia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari alam.

"Tidak semua pencarian berakhir dengan jawaban. Bisa jadi justru pengalaman dalam perjalanan itulah yang memberi makna," katanya. (dik/him)

Editor : Abdul Rochim
#PBSI UMK #Sesat Arah #Partikel Dee Lestari #teater mahasiswa #umk kudus