KUDUS – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kudus mencatat inflasi bulanan sebesar 0,29 persen pada Juni 2026 dibandingkan Mei 2026.
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya bensin, menjadi penyumbang terbesar inflasi yang terjadi selama periode tersebut.
Kepala BPS Kabupaten Kudus Eko Suharto menjelaskan, kelompok pengeluaran transportasi menjadi penyumbang inflasi paling besar dengan andil mencapai 0,22 persen dan tingkat inflasi kelompok sebesar 1,87 persen.
Baca Juga: SMP Internasional Raden Umar Said di Kudus Siap Terapkan Kurikulum Cambridge
"Kelompok transportasi memberikan andil inflasi terbesar pada Juni 2026, terutama dipicu kenaikan harga bensin," ujarnya saat memaparkan perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK), kemarin.
Selain bensin, sejumlah komoditas pangan juga turut mendorong inflasi.
Bawang merah menyumbang inflasi sebesar 0,05 persen, disusul bawang putih 0,03 persen.
Serta beras dan telepon seluler yang masing-masing memberikan andil 0,02 persen.
Secara tahunan, inflasi Kabupaten Kudus pada Juni 2026 terhadap Juni 2025 tercatat sebesar 2,83 persen.
Sementara inflasi tahun kalender atau Januari hingga Juni 2026 mencapai 1,56 persen.
Meski demikian, Eko menilai kondisi inflasi di Kudus masih berada dalam kategori terkendali.
"Inflasi tahunan sebesar 2,83 persen dan inflasi tahun kalender 1,56 persen masih relatif terkendali," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Disnaker Perinkop UKM) Kudus Catur Widiyatno mengungkapkan, tekanan inflasi dan perlambatan ekonomi mulai dirasakan sektor industri.
Menurutnya, kenaikan harga bahan baku yang dipengaruhi kondisi geopolitik global membuat biaya produksi meningkat.
Akibatnya, sejumlah perusahaan mulai melakukan penyesuaian dengan mengurangi volume produksi agar kenaikan harga jual kepada masyarakat tidak terlalu tinggi.
"Bahan baku naik tajam sehingga perusahaan harus mencari strategi agar tetap bisa berproduksi tanpa menaikkan harga secara signifikan. Kondisi ekonomi saat ini cukup berat bagi semua sektor," ujarnya.
Ia menambahkan, harga berbagai komoditas yang sudah telanjur naik diperkirakan sulit kembali ke level sebelumnya.
Kalaupun terjadi penurunan, nilainya relatif kecil.
"Kalau pun turun, paling hanya sekitar Rp1.000 sampai Rp2.000. Di sisi lain, perusahaan yang mulai mengurangi produksi juga berpotensi mengurangi jumlah tenaga kerja. Meski begitu, kondisi ekonomi Kudus masih tergolong stabil," pungkasnya. (san/him)
Editor : Abdul Rochim