KUDUS – Kenaikan harga kedelai impor mulai menekan pelaku usaha tahu dan tempe di Kabupaten Kudus.
Untuk menjaga harga jual tetap terjangkau, sejumlah produsen memilih menyesuaikan ukuran produk dibanding menaikkan harga di tingkat konsumen.
Salah satunya dilakukan Suntono (54), pengrajin tempe asal Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati.
Baca Juga: TPA Tanjungrejo Overload, Pemkab Kudus Usulkan Perluasan Lahan
Ia mengaku harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama produksi terus merangkak naik dalam beberapa waktu terakhir.
Menurutnya, sebelum gejolak konflik di Timur Tengah, harga kedelai masih berada di kisaran Rp 9.500 per kilogram.
Namun kini harganya mencapai Rp 10.900 per kilogram.
“Awalnya sekitar Rp 9.500 per kilogram, kemudian naik Rp 10 ribu, dan sekarang sudah Rp 10.900 per kilogram,” ujarnya, Selasa (16/6).
Kenaikan harga bahan baku tersebut membuat biaya produksi meningkat cukup signifikan.
Meski demikian, Suntono memilih mempertahankan harga jual tempe agar pelanggan tidak beralih ke produk lain.
Sebagai solusi, ia melakukan penyesuaian ukuran tempe yang diproduksi.
“Untuk harga masih sama, belum naik. Tapi ukurannya sedikit kami kecilkan agar tetap bisa bertahan,” katanya.
Selain mengecilkan ukuran produk, volume produksi juga ikut disesuaikan.
Jika sebelumnya mampu menghabiskan sekitar 1,5 kuintal kedelai per hari, kini kebutuhan bahan baku dikurangi menjadi sekitar satu kuintal.
Dari jumlah tersebut, ia menghasilkan sekitar 60 lonjor tempe dengan panjang antara 1,5 hingga 2,5 meter, menyesuaikan kebutuhan pasar dan permintaan pedagang.
“Produksi sekarang kami sesuaikan dengan permintaan pedagang. Kalau bahan baku naik terus, tentu harus ada penyesuaian,” ungkapnya.
Dampak kenaikan harga kedelai juga mulai dirasakan pedagang tahu. Asikin (65), pedagang tahu keliling asal Desa Gribig, Kecamatan Gebog, mengatakan hingga kini harga tahu masih relatif stabil.
Namun ia memperkirakan kenaikan harga tidak akan bisa dihindari apabila harga bahan baku terus meningkat.
“Saya mengambil tahu dari Desa Ploso. Pemilik usaha tahu bilang harga kedelai sudah naik, kemungkinan nanti harga tahu juga akan ikut naik bersama pengusaha lainnya,” ujarnya.
Menurut Asikin, perubahan harga dari produsen akan berpengaruh langsung terhadap harga di tingkat konsumen.
Sebagai pedagang, ia hanya bisa menyesuaikan apabila harga kulakan mengalami kenaikan.
“Kalau dari pengusaha naik, saya juga akan menyesuaikan harga jual,” tambahnya.
Kenaikan harga kedelai menjadi tantangan bagi industri tahu dan tempe yang masih bergantung pada pasokan impor.
Para pelaku usaha berharap harga bahan baku segera stabil agar produksi tetap berjalan dan daya beli masyarakat tidak terganggu. (gal)