KUDUS – Puskesmas Pembantu (Pustu) Colo memberi dengan layanan deteksi kesehatan berbasis teknologi kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI).
Bahkan Pustu Colo menjadi satu-satunya pustu yang menerapkan layanan AI ini menjadi di Kudus.
Ini sebagai upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Layanan unggulan di Pustu Colo berupa Smece (Screening Mediscan Face) ini, merupakan sistem deteksi dini kondisi kesehatan berbasis AI.
Melalui layanan tersebut, pasien cukup melakukan pemindaian wajah serta berbicara selama sekitar 45 detik.
Kemudian melengkapi data diri untuk mendapatkan hasil analisis kesehatan.
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengatakan, kehadiran Pustu tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Ini juga sekaligus mendekatkan layanan kesehatan dasar.
Dilengkapi inovasi layanan deteksi dini berbasis AI, kata dia, masyarakat bisa mengetahui kondisi kesehatannya secara cepat dan akurat.
Hasilnya mendekati pemeriksaan laboratorium, sehingga bisa menjadi dasar pencegahan sejak dini.
"Saya sudah mencobanya langsung dan memang benar hasilnya mendekati riil,” ujarnya.
Pembangunan Pustu Colo tersebut, kata dia, merupakan wujud penerapan Integrasi Layanan Primer (ILP) di tingkat layanan kesehatan terdekat dengan masyarakat.
Melalui ILP, layanan kesehatan difokuskan pada siklus hidup, mulai dari janin hingga lanjut usia, serta mengedepankan upaya promotif dan preventif.
Selain melayani warga sekitar, Pustu Colo juga disiapkan untuk melayani wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata religi Sunan Muria maupun destinasi lain di sekitarnya.
Dengan demikian, layanan kesehatan dapat diakses secara lebih luas dan responsif.
Sam’ani menambahkan capaian Universal Health Coverage (UHC) di Kabupaten Kudus yang telah mencapai 99,45 persen menjadi modal penting dalam memperkuat layanan kesehatan hingga tingkat Pustu sebagai pendukung Puskesmas.
Sementara itu, Plt Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Mustiko Wibowo menjelaskan, inovasi Smece merupakan bagian dari transformasi layanan kesehatan sesuai kebijakan Kementerian Kesehatan.
Khususnya terkait integrasi layanan primer dan digitalisasi.
”Melalui Smece, data seperti tinggi dan berat badan, lingkar pinggang, asam urat, kolesterol total, HDL, LDL, hingga indikator lain dimasukkan ke sistem. Pasien juga diminta berbicara selama 30–45 detik untuk dianalisis oleh AI,” imbuhnya.
Inovasi Smece ini merupakan kali pertama diterapkan di puskesmas, tidak hanya di Jawa Tengah tetapi juga di Indonesia. Ke depan, sebanyak 19 puskesmas di Kudus siap melaksanakan layanan ini.
Selain peluncuran Smece, juga meluncurkan inovasi layanan Sibunda Komplet (Selamatkan Ibu dan Bayi) yang diterapkan di 11 puskesmas yang melayani persalinan. (san/him)
Editor : Abdul Rochim