KUDUS – Tren minum kopi tak lagi sebatas di kafe atau kedai kekinian.
Sejak akhir 2024 hingga pertengahan 2025 ini, jalan-jalan protokol di Kudus seperti Jalan A. Yani, Jalan Sunan Kudus, dan Jalan Jendral Sudirman ramai dengan kehadiran "kopi jalanan" alias warung kopi dadakan yang buka mulai malam hingga dini hari.
Konsepnya sederhana yaitu meja dan kursi lipat, alat seduh manual, lampu hias, dan aroma kopi yang tercium dibawah langit malam.
Nur Ahmad Qomarudin, pemilik Kopi Warisan Bapak.
Nama ini bukan sekadar branding, tapi punya makna personal.
“Saya ingin bangun bisnis dari nol. Warisan bapak ini filosofis, karena saya belajar banyak untuk menjadi bapak. Selain itu, alat-alatnya juga saya beli dari teman, semacam warisan juga,” ujarnya.
Ia memulai usahanya sejak 17 Mei 2025, hanya bersama satu orang rekan.
“Saat ini masih terbilang tidak seramai kopi-kopi sebelah, karena memang butuh proses. Saya belum genap dua bulan disini,” katanya.
Meski konsepnya sederhana, perjuangan membangun kopi jalanan tak semudah membalik cangkir.
Nur Ahmad dan para penjual kopi lainnya harus berpacu dengan waktu, cuaca, dan kadang penertiban dari aparat.
"Kalau di Jalan Sudirman arah perempatan pentol, relatif aman asal izin lahan beres. Tapi di Jalan A. Yani atau sekitar alun-alun bisa kena steril jam 00.00," jelasnya.
Tak bisa dipungkiri, kopi jalanan adalah tren gaya hidup baru, bukan hanya sekadar usaha sampingan.
Ia jadi tempat berjejaring, menikmati malam, bahkan jadi laboratorium belajar bagi barista pemula.
Tapi sebagian pelaku usaha, seperti Nur Ahmad, pesimistis soal keberlanjutannya.
“Tren ini mungkin musiman. Tapi saya berharap bisa bertahan lama,” ujarnya.
Salah satu penjual lain, Deni Saputra, menjalankan usahanya sambil kuliah.
Konsep lapaknya bergaya vintage, dan sering jadi tongkrongan mahasiswa dan anak komunitas.
"Saya bukan fanatik kopi, tapi suka. Awalnya beli, terus tertarik buka. Cukup ramai, standar lah sama teman-teman yang lain, tapi biasanya paling ramai pas ada event," kata Deni.
Pembeli pun punya alasan tersendiri kenapa kopi jalanan lebih menarik dibanding kedai. Sidqi Malik, mahasiswa, bilang suasana lebih asik.
“Lebih santai, bisa lihat jalan, dan harganya terjangkau, terutama bagi mahasiswa seperti saya. Seminggu sekali pasti mampir,” tuturnya.
Hal serupa dikatakan Ovi, pembeli lainnya, yang lebih memilih kopi jalanan dibanding coffee shop.
“Murah sih. Tapi ya minusnya nggak ada makanan. Tapi saya lebih suka ini daripada kopishop," katanya.
Pembeli lain, Dimas Labib mengatakan, kopi jalanan bukan sekadar tempat beli minuman. Ia adalah ruang kecil yang mempertemukan cita rasa, kreativitas, dan harapan di antara lampu jalan dan denting sendok pengaduk. (dik/amr)
Editor : Syaiful Amri