RADARPATI.ID - KOMUNITAS Seni Samar selalu identik dengan pertunjukan Barongan Ndas Papat atau Barongan.Berkepala Empat.
Hal ini dapat dikenali dengan bentuk topengnya yang khas terbuat dari bahan anyaman bambu dan daun kering, dibentuk menyerupai macan.
Topeng tersebut berjumlah empat, dipakai oleh setiap pemain dengan busana kain serba putih.
Menurut, Ketua Komunitas Seni Samar Dian Puspita Sari penggunaan bahan alam sengaja dipilih sebagai bentuk kelestarian lingkungan.
Ia meyakini, setiap busana dan bahan yang digunakan dalam pertunjukan memiliki nilai dan jiwanya sendiri.
Sehingga perlu mendekatkan sisi magis tersebut pada pemain.
"Meski tidak seratus persen menggunakan bahan alam karena kami masih menggunakan kawat. Tapi setidaknya kami menghindari penggunaan plastik, " katanya kemarin.
Tidak hanya itu, alam sudah menjadi bagian dari pertunjukan seni.
Tentunya sudah menjadi bagian dari cerita Barongan Ndas Papat.
Ia menceritakan, kisah diambil dari cerita rakyat yang mengisahkan Rananggono danyang Pegunungan Muria.
Sosok tersebut, dikenal sebagai penunggu tanah Muria yang menjaga entitas di dalamnya.
Rananggono ditampilkan dalam bentuk barongan, menggabungkan unsur-unsur mitologis dan artistik
yang kuat untuk mengeksplorasi dan merayakan warisan budaya.
Biasanya kisah Rananggono dipadukan dengan pertunjukan lain, seperti jaran upet.
Hal itu ditujukan untuk menambah variasi tampilan.
"Pada dasarnya dongeng dari rakyat itu untuk memberi pelajaran untuk menjaga kelestarian lingkungan atau alam yang diberikan Sang Pencipta pada kita," terangnya.
Komunitas Seni Samar terbentuk sejak 1998 selalu konsisten menampilkan kritis sosialnya hingga sekarang.
Hal itu berlatar belakang dari pemain yang terdiri dari seorang pelajar, mahasiswa, petani, buruh, dan lain-lain.
Perbedaan itulah menambah variasi tampilan. Sekaligus menciptakan pemikiran kreatif lewat pengaturan rasa satu sama lain.
Berbagai pertunjukan seni sudah kerap diisi oleh komunitas tersebut.
Salah satunya menjadi perwakilan Kudus menampilkan kesenian dalam acara Pakudjembara 2024 di pulau Karimunjawa, Jepara. (*/zen)
Editor : Abdul Rochim