KUDUS – Jagat media sosial dihebohkan dengan kisah inspiratif Suprianto, pria asal Kudus, Jawa Tengah, yang akrab disapa Mbah Riyan.
Di balik profesinya sebagai kuli bangunan, ia ternyata dikenal di kalangan akademisi dan ulama sebagai penyunting naskah klasik Islam (muhaqqiq) dengan karya-karya yang telah diterbitkan hingga Timur Tengah.
Dalam dunia literasi Islam, Mbah Riyan menggunakan nama pena Ibnu Harjo Al-Jawi.
Baca Juga: Jalur Sepeda Baru di Kudus Terhalang PKL dan Parkiran, Penataan Ruang Diperlukan
Keahliannya dalam melakukan tahqiq atau penyuntingan ilmiah terhadap kitab-kitab klasik disebut mendapat pengakuan dari sejumlah ulama, termasuk ulama senior Al-Azhar Mesir, Syekh Abdul Aziz Syahawi.
Setiap hari, Mbah Riyan bekerja sebagai buruh bangunan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Namun, setelah aktivitasnya selesai, ia menghabiskan waktu mempelajari manuskrip Arab, meneliti naskah kuno, dan menyusun karya ilmiah hingga larut malam.
Meski tidak pernah menempuh pendidikan formal di perguruan tinggi Timur Tengah, kemampuan bahasa Arab serta metodologi penelitiannya disebut mampu menghasilkan karya-karya berkualitas yang diterbitkan di berbagai negara Timur Tengah.
Berbeda dengan banyak ulama pada umumnya, Mbah Riyan tidak memiliki majelis taklim besar maupun mengasuh pondok pesantren.
Ia memilih berdakwah melalui tulisan dengan menerbitkan berbagai hasil tahqiq kitab-kitab klasik.
Puluhan karya yang disusunnya telah beredar di dunia internasional dan menjadi rujukan bagi kalangan akademisi maupun penuntut ilmu.
Menolak Penghargaan demi Menjaga Keikhlasan
Kontribusi Mbah Riyan terhadap khazanah keilmuan Islam juga menarik perhatian Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Ia pernah diundang ke Jakarta untuk menerima penghargaan atas dedikasinya dalam bidang literasi Islam.
Meski seluruh biaya perjalanan dan akomodasi telah disiapkan panitia, Mbah Riyan memilih tidak menghadiri acara tersebut.
Ia lebih memilih tetap menjalani kehidupan sederhana dan melanjutkan aktivitasnya seperti biasa.
Sikap tersebut membuat banyak kalangan menilai Mbah Riyan sebagai sosok yang mengutamakan keikhlasan dalam menuntut dan menyebarkan ilmu dibandingkan mencari popularitas.
Dakwah Melalui Literasi
Di tengah berkembangnya media digital, Mbah Riyan memilih jalur dakwah yang berbeda.
Ia lebih fokus meneliti, menyunting, dan menerbitkan kitab-kitab klasik agar dapat dipelajari generasi berikutnya.
Kisahnya pun mendapat apresiasi luas dari masyarakat, termasuk komunitas santri dan pegiat pelestarian khazanah keilmuan Islam, yang melihat sosoknya sebagai teladan kesederhanaan sekaligus kecintaan terhadap ilmu. (*/him)