Renungan Makna Kehidupan di Tengah Gaya Hidup Modern

Admin • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 11:08 WIB
Pengasuh Suluk Maleman Anis Sholeh Baasyin.
Pengasuh Suluk Maleman Anis Sholeh Baasyin.

 

PATI – Budayawan Anis Sholeh Ba'asyin mengajak masyarakat untuk kembali merefleksikan makna kehidupan di tengah derasnya arus modernitas yang dinilai mendorong manusia terus mengejar keinginan tanpa pernah merasa cukup.

Ajakan tersebut disampaikan saat membuka kegiatan NgAllah Suluk Maleman yang digelar Sabtu (18/7) malam.

Dalam pemaparannya, Anis membuka diskusi dengan sebuah pertanyaan reflektif mengenai tujuan hidup manusia.

Menurutnya, pertanyaan sederhana tentang apa yang sebenarnya dicari manusia di dunia menjadi penting untuk direnungkan di tengah perubahan pola hidup masyarakat saat ini.

Ia menilai batas antara kebutuhan dan keinginan semakin kabur. Kondisi tersebut, kata dia, membuat banyak orang merasa harus memenuhi seluruh keinginannya sehingga terus mengejar berbagai hal tanpa pernah mencapai kepuasan.

Baca Juga: Suluk Maleman Edisi 169, Menemukan Cahaya di Tengah Gelap Zaman

"Sekarang ini batas antara keinginan dan apa yang benar-benar kebutuhan menjadi bias. Kita menganggap semua keinginan harus terpenuhi sehingga memosisikan kita sebagai pengemis dunia. Pada dasarnya kita memang dikondisikan menjadi masyarakat yang setiap hari mengemis dunia," ujar Anis.

Menurutnya, budaya yang mendorong manusia untuk terus merasa kurang telah melahirkan berbagai persoalan sosial.

Ia mencontohkan tindak kriminal seperti korupsi, perampokan, hingga eksploitasi lingkungan yang berlebihan berakar dari sikap tidak pernah merasa puas terhadap apa yang dimiliki.

"Perampokan, korupsi sampai penghancuran alam secara membabi buta pada dasarnya berawal dari konstruksi yang sama, yaitu kondisi tidak pernah puas. Kondisi itu kemudian menjadi standar baru gaya hidup," katanya.

Anis juga menyoroti perubahan pola hidup masyarakat akibat perkembangan teknologi. Menurutnya, kebutuhan hidup modern semakin kompleks, mulai dari ketergantungan terhadap listrik hingga konektivitas melalui telepon pintar. Perubahan tersebut secara perlahan memengaruhi perilaku, harapan, sekaligus kecemasan manusia.

Sebagai perbandingan, ia menilai kehidupan masyarakat agraris pada masa lalu cenderung lebih sederhana.

Baca Juga: Suluk Maleman Robohnya Saka Guru Rumah Kami, Refleksi Simbolik Kondisi Sosial Hari Ini

 Para petani, menurutnya, bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehingga masih memiliki ruang untuk merenungkan makna kehidupan dan memperkuat nilai-nilai spiritual.

"Kebutuhan hidup mereka belum terlalu kompleks sehingga punya banyak waktu untuk menghayati dan merenungi kehidupan tanpa merasa terus dikejar sesuatu," ujarnya.

Lebih lanjut, Anis menggambarkan kehidupan modern sebagai fatamorgana yang membuat manusia terus mengejar sesuatu yang tidak pernah benar-benar dapat memuaskan.

 Ia juga mengkritisi pola pikir yang mengedepankan persaingan tanpa henti sehingga mendorong lahirnya sikap saling berebut kekuasaan dan mengabaikan dampaknya bagi generasi mendatang.

"Hidup kita dikondisikan terus saling berkejaran dan saling membinasakan untuk mengejar sesuatu yang tidak pernah bisa memuaskan kita. Itu yang merangsang orang berebut kekuasaan dan menghancurkan bumi tanpa pernah berpikir tentang nasib anak cucunya," tuturnya.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, Anis mengajak masyarakat memperkuat hati dan memiliki pijakan nilai yang jelas agar mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Menurutnya, manusia perlu membersihkan hati dari sifat tamak yang menjadi sumber berbagai persoalan.

"Karena peradaban kita dikendalikan oleh sifat tamak, maka yang paling beruntung adalah yang mampu menyucikan hatinya. Kita diberi kemampuan untuk mengolah hal-hal negatif dari luar menjadi sesuatu yang positif di dalam diri," katanya.

Ia menambahkan, salah satu cara menjaga ketenangan batin adalah melalui dzikir dan memperbanyak mengingat Allah.

 Menurutnya, dzikir bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi menjadi sarana untuk menemukan ketenangan, rasa syukur, dan mengembalikan orientasi hidup manusia kepada Sang Pencipta.

"Maka salat lima waktu dan membaca Al-Qur'an mengingatkan kita kembali ke jalan itu. Allah adalah guru, sehingga setiap saat kita membutuhkan bimbingan-Nya. Tujuan hidup kita hanyalah dari Allah menuju Allah," ujarnya.

Sementara itu, budayawan Nur Cahyo menambahkan bahwa dalam budaya Jawa terdapat istilah "ndok amun-amun", yakni sesuatu yang menyerupai fatamorgana. Menurutnya, istilah tersebut menggambarkan keinginan duniawi yang terus dikejar, tetapi tidak pernah benar-benar dapat diraih.

"Dunia ini bagai ndok amun-amun. Sejauh apa pun kita mengejarnya, tetap tidak akan pernah terkejar," kata Nur Cahyo. (aua)

Editor : Admin
gaya hidup modern modernitas ngaji budaya Anis Sholeh Baasyin suluk maleman