Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Hindari Risiko Diabetes! Inilah Tips Ampuh Mengatur Makanan Anak agar Terhindar dari Bahaya Kadar Gula Tinggi!

Andre Faidhil Falah • Selasa, 13 Agustus 2024 | 00:32 WIB
ILUSTRASI; Buah dan sayur. (sumber: freepik)
ILUSTRASI; Buah dan sayur. (sumber: freepik)

RADARPATI.ID - ANAK-anak yang mengidap diabetes melitus (DM) harus memperhatikan kebiasaan makannya dengan cermat.

Mengurangi konsumsi gula dan makanan manis sangat penting, dan disarankan untuk menggantinya dengan lima porsi buah-buahan atau sayuran setiap hari sebagai alternatif camilan.

Diabetes, yang bisa menyerang siapa saja termasuk anak-anak, adalah gangguan metabolisme yang ditandai oleh tingginya kadar gula darah atau hiperglikemia.

Jika tidak diobati, hiperglikemia dapat mengganggu berbagai fungsi tubuh, termasuk peredaran darah, ginjal, saraf, serta pertumbuhan dan perkembangan anak.

Gejala diabetes pada anak sering kali mudah dikenali, dan orangtua perlu waspada terhadap tanda-tanda seperti sering buang air kecil, rasa haus berlebihan, sering makan tetapi berat badan sulit naik, serta kelelahan.

Menurut Dokter Spesialis Anak dari RSU Fastabiq Sehat PKU Muhammadiyah, dr. Anindya Diwasasri, Sp.A., diabetes pada anak dibagi menjadi dua jenis: DM tipe 1 dan DM tipe 2.

DM tipe 1 disebabkan oleh penurunan produksi insulin oleh pankreas, sementara DM tipe 2 terjadi karena resistensi tubuh terhadap insulin meskipun kadarnya normal.

Faktor penyebab DM tipe 1 biasanya terkait dengan masalah imunologi, sedangkan DM tipe 2 sering disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat dan obesitas.

Penanganan untuk keduanya telah ditetapkan dalam standar tatalaksana oleh IDAI.

Untuk DM tipe 1, ada lima pilar penanganan yang harus dilakukan: injeksi insulin, pemantauan gula darah, pengaturan nutrisi, aktivitas fisik, dan edukasi.

IDAI merekomendasikan injeksi insulin dua kali sehari dengan kombinasi insulin basal dan kerja cepat, serta pemantauan gula darah minimal empat kali sehari.

Nutrisi harus seimbang sesuai kebutuhan kalori harian, dan aktivitas fisik dengan aerobik perlu dilakukan lebih dari 60 menit per hari.

Sementara untuk DM tipe 2, penanganannya fokus pada perubahan gaya hidup segera setelah diagnosis.

Ini termasuk modifikasi diet dan aktivitas fisik untuk mencapai target kadar HbA1c di bawah 6,5 persen.

Tergantung pada gejala dan tingkat hiperglikemia, pemberian metformin dan/atau insulin mungkin diperlukan.

Orangtua harus terlibat langsung dalam mendukung anak dengan diabetes dengan menerapkan pola makan sehat dan rutinitas olahraga yang cukup.

Dr. Anindya menyarankan agar anak-anak dengan diabetes menghindari minuman dan makanan yang mengandung gula, seperti permen dan manisan.

Sebagai gantinya, mereka dianjurkan untuk makan lima porsi buah atau sayuran setiap hari sebagai pengganti camilan.

Selain itu, penting untuk mengurangi konsumsi makanan kemasan dan makanan instan serta mengganti sumber karbohidrat dengan yang memiliki indeks glikemik lebih rendah.

Faktor risiko untuk DM tipe 2 meliputi obesitas, riwayat keluarga dengan DM tipe 2 atau penyakit kardiovaskular, serta tanda-tanda resistensi insulin seperti akanthosis nigrikans, dislipidemia, hipertensi, dan sindrom ovarium polikistik.

Kondisi gawat darurat seperti keto-asidosis diabetik (KAD) juga bisa muncul jika kadar gula sangat tinggi, ditandai dengan nyeri perut, mual, sering berkemih, sesak napas, dehidrasi, bahkan penurunan kesadaran. Jika gejala ini terjadi, segera bawa anak ke rumah sakit. (adr/him)

Editor : Abdul Rochim
#manis #gula #buah #sayur #anak #diabetes melitus