Tabebuya Merah Muda Bermekaran di Jalan Protokol Jepara, Warga Ngaku Suka 

Abdul Rochim • Dipublikasikan Sabtu, 24 Oktober 2026 | 06:44 WIB
INDAH MENAWAN: Tabebuya yang bermekaran di Jalan Soekarno-Hatta tampak menggugah semangat, pengendara merasa terhibur saat melintas pada Jumat (23/10). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR PATI)
INDAH MENAWAN: Tabebuya yang bermekaran di Jalan Soekarno-Hatta tampak menggugah semangat, pengendara merasa terhibur saat melintas pada Jumat (23/10). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR PATI)

JEPARA – Bunga tabebuya berwarna merah muda dan putih mulai menghiasi Jalan Soekarno-Hatta, Jepara.

Mekarnya bunga di sepanjang jalan tersebut menghadirkan pemandangan menarik di tengah padatnya lalu lintas dan menjadi hiburan tersendiri bagi pengguna jalan.

Bagi Rahayu, 30, warga Desa Ngasem, deretan tabebuya yang bermekaran memberikan suasana berbeda saat berangkat kerja.

Warna bunga yang cerah membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan.

Baca Juga: Jepara Koleksi 9 Emas di Porprov Jateng 2026 pada Jumat 23 Oktober

“Warnanya cerah, membuat mood (suasana hati, Red) lebih baik,” ungkapnya, Jumat (23/10/2026).

Tak hanya Rahayu, sejumlah pengguna jalan juga terlihat menikmati pemandangan bunga yang bermekaran.

Kehadiran tanaman tersebut membuat suasana jalan protokol tampak lebih berwarna di tengah aktivitas perkotaan.

Di balik keindahan itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara terus melakukan penataan dan peremajaan pohon di sejumlah ruas jalan.

Program tersebut mempertimbangkan ketersediaan ruang tanam, kemudahan pemeliharaan, serta keamanan pengguna jalan.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Pemeliharaan Lingkungan Hidup (P3LH) DLH Jepara, Nexson Hasihollang, menjelaskan bahwa peremajaan dilakukan dengan menyesuaikan jenis pohon yang telah tumbuh di lokasi.

Pohon tanjung yang masih dipertahankan akan diremajakan dengan jenis serupa.

Sementara itu, tabebuya digunakan untuk mengganti tanaman yang mati maupun mengisi ruang kosong yang memungkinkan untuk ditanami.

“Kalau peremajaan pohon tanjung, ya tanjung. Kalau ada tanaman mati, kami sulam dengan tanaman baru berupa tabebuya. Intinya, kalau ada ruang yang masih memungkinkan, kami tambah,” jelasnya.

Meski demikian, penanaman di jalan protokol memiliki sejumlah kendala.

Keberadaan akses masuk rumah dan pertokoan membuat penentuan jarak serta lokasi penanaman harus dilakukan secara cermat.

Kondisi lingkungan di sejumlah titik, termasuk sekitar RS PKU Aisyiyah dan Kaliwiso, juga menjadi pertimbangan dalam menentukan jenis serta penempatan pohon.

Selain tabebuya, DLH mempertimbangkan tanaman tanjung dan glodokan untuk mengisi ruang yang tersedia.

Pemilihan tanaman tidak hanya mengutamakan keindahan, tetapi juga memperhatikan fungsi konservasi, kebutuhan perawatan, serta risiko terhadap infrastruktur di sekitarnya.

Nexson mencontohkan pohon trembesi yang memiliki manfaat dalam penyerapan karbon. Namun, pertumbuhan akarnya perlu diperhitungkan agar tidak merusak jalan maupun bangunan.

“Trembesi, misalnya, memiliki manfaat dalam penyerapan karbon, tetapi pertumbuhan akarnya perlu diperhitungkan agar tidak merusak jalan maupun bangunan,” tegasnya.

Pohon palem yang tumbuh tinggi juga menjadi perhatian karena relatif sulit dirawat.

Tanaman yang dinilai tidak lagi sesuai dengan kondisi lokasi dapat ditebang dan diganti menggunakan jenis yang lebih memungkinkan untuk dipelihara.

“Kami terus melakukan penyulaman dan penanaman baru. Harapannya, secara bertahap seluruh titik yang membutuhkan peremajaan bisa diselesaikan,” imbuhnya.

DLH Jepara juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin mengusulkan penghijauan di jalan desa.

Usulan tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah daerah untuk memberikan dukungan berupa bibit tanaman.

Untuk menunjang program tersebut, DLH berupaya menyediakan bibit secara mandiri, termasuk mengembangkan pembibitan tabebuya.

Ketersediaan bibit diharapkan membantu pelaksanaan peremajaan sekaligus penambahan pohon di lokasi yang masih memungkinkan.

Pemilihan tanaman juga disesuaikan dengan kondisi lahan. Tabebuya, tanjung, dan glodokan dapat ditanam langsung di tanah jika tersedia ruang yang cukup.

Adapun untuk penanaman dalam pot, DLH lebih memilih bougenville karena dinilai mampu bertahan dalam kondisi panas.

Jadwal penanaman pun direncanakan menyesuaikan masa labuh atau musim yang dianggap mendukung pertumbuhan tanaman.

Menurut Nexson, penghijauan tidak cukup hanya menghadirkan warna di sepanjang jalan.

Penataan yang tepat diperlukan agar tanaman dapat tumbuh optimal, mudah dirawat, dan tetap memberikan manfaat bagi lingkungan.

“Kami sudah merencanakan di beberapa titik, untuk kami lakukan peremajaan. Harapannya masyarakat juga ambil bagian untuk perawatan,” pungkasnya. (fik)

Editor : Abdul Rochim
DLH Jepara tabebuya Jepara peremajaan pohon Jepara penghijauan jalan protokol bunga tabebuya bermekaran