Kapal Tongkang Kandas Belum Terevakuasi di Perairan Jepara, Berada di Luar Zona Konservasi

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 12:49 WIB
BELUM TEREVAKUASI: Kondisi tongkang Santoso 06 yang ditarik TB Transpower 215 tenggelam di perairan Mororejo, Kecamatan Mlonggo, Jepara. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR PATI)
BELUM TEREVAKUASI: Kondisi tongkang Santoso 06 yang ditarik TB Transpower 215 tenggelam di perairan Mororejo, Kecamatan Mlonggo, Jepara. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR PATI)

JEPARA – Tongkang Santoso 06 yang ditarik Tug Boat (TB) Transpower 215 dan tenggelam di perairan Mororejo, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara, dipastikan berada di luar kawasan konservasi laut. 

Meski demikian, insiden tersebut diperkirakan menimbulkan kerugian miliaran rupiah akibat ribuan ton batu bara yang ikut tenggelam.

Tongkang yang berlayar dari Banjarmasin menuju Marunda, Jakarta, diketahui mengangkut sekitar 7.221 ton batu bara.

Baca Juga: PT Samwon Busana Indonesia Tutup Pabrik di Jepara Mulai Agustus 2026, Sekitar 670 Karyawan Terdampak

Berdasarkan ketentuan harga Domestic Market Obligation (DMO) yang ditetapkan pemerintah sebesar maksimal US$70 per ton, nilai muatan yang tenggelam diperkirakan mencapai sekitar Rp 9,06 miliar. 

Besaran kerugian dapat berubah bergantung pada kualitas atau nilai kalori batu bara yang diangkut.

Selain kerugian material, insiden tersebut juga berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan laut, termasuk ekosistem bawah laut di sekitar lokasi kejadian.

Kepala Stasiun Radio Pantai (SROP) Jepara Distrik Navigasi Semarang Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Edi Pitono, mengatakan lokasi tenggelamnya tongkang memang berada di dekat kawasan konservasi Pulau Panjang.

Namun, setelah dilakukan pemetaan menggunakan data kawasan konservasi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), posisi kapal dipastikan berada di luar zona konservasi.

Menurut Edi, nahkoda kapal telah melaporkan adanya indikasi kebocoran pada tongkang sejak Jumat (26/6).

Upaya menyeimbangkan kapal melalui ballast tidak berhasil mengatasi kemiringan yang diduga disebabkan kebocoran pada badan tongkang.

Setelah meminta izin berlindung di perairan Jepara, tongkang tetap mengalami kemiringan hingga akhirnya tenggelam di perairan dengan kedalaman sekitar 10 meter.

"Pada prinsipnya kami menyampaikan informasi kepada pihak terkait. Seluruh 10 awak kapal dalam kondisi selamat," ujarnya.

Saat kejadian, kondisi cuaca dilaporkan cukup baik dengan angin bertiup dari arah tenggara berkecepatan 4–5 knot dan tinggi gelombang sekitar 0,5 meter.

Informasi tersebut langsung diteruskan kepada Syahbandar atau Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) untuk penanganan lebih lanjut.

Lokasi tenggelamnya tongkang berada sekitar 3,5 mil dari daratan Jepara. SROP juga terus melakukan pengawasan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut,

Termasuk untuk menjaga keamanan jalur Pipa Gas Kalimantan–Jawa (Kalija) yang melintas di sekitar perairan.

Di sekitar lokasi juga terdapat sejumlah area tambat labuh yang digunakan untuk kondisi darurat, perbaikan kapal, kapal pemerintah, kapal kargo, maupun kapal tunda.

Hingga hampir tiga pekan setelah kejadian, proses evakuasi tongkang beserta muatan batu bara masih belum dilakukan.

Sebagai langkah sementara, telah dipasang jaring di sekitar lokasi untuk mencegah batu bara yang tenggelam terbawa arus ke wilayah yang lebih luas.(him)

Editor : Abdul Rochim
TB Transpower 215 tongkang batu bara Jepara Santoso 06 kapal kandas Jepara batu bara tenggelam