JEPARA — Kawasan Pantai Kartini Jepara dipadati warga dan wisatawan dalam perayaan tradisi Pesta Lomban yang digelar sepekan setelah Idulfitri.
Salah satu rangkaian yang paling dinanti adalah Festival Kupat Lepet, di mana ribuan kupat dan lepet diperebutkan masyarakat sebagai simbol kebersamaan dan harapan berkah.
Setelah prosesi pelarungan kepala kerbau di laut, perhatian masyarakat beralih ke area lapangan Pantai Kartini.
Baca Juga: Ambisi Raih Hasil Positif, Persijap Jepara Siap Tantang Persik Kediri Awal April
Di lokasi tersebut telah disiapkan gunungan kupat dan lepet yang sebelumnya dikirab mengelilingi kawasan wisata.
Kirab menjadi bagian penting tradisi, sebagai pengingat bahwa budaya lokal merupakan warisan bernilai yang perlu dijaga lintas generasi.
Kemeriahan acara semakin terasa dengan penampilan Tari Kupat Lepet yang menyuguhkan gerakan penuh makna.
Tarian ini melambangkan rasa syukur, kebersamaan, serta semangat saling memaafkan yang menjadi inti perayaan setelah Idulfitri.
Baca Juga: Pemkab Jepara Rancang OPD Pendapatan Baru untuk Optimalkan PAD
Wakil Bupati Jepara, M Ibnu Hajar, menegaskan bahwa tradisi Lomban bukan sekadar agenda tahunan, tetapi bentuk pelestarian budaya di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, nilai-nilai lokal harus tetap dijaga agar tidak tergerus modernisasi.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara, Ali Hidayat, menyebutkan bahwa sekitar 2.000 kupat dan lepet disiapkan dalam festival tahun ini.
Jumlah tersebut awalnya disesuaikan dengan angka 1447 berdasarkan penanggalan Hijriah, namun kemudian ditambah agar lebih banyak masyarakat dapat berpartisipasi.
Setelah doa bersama dipanjatkan, warga langsung berbondong-bondong berebut kupat dan lepet.
Suasana riuh penuh tawa dan kegembiraan mencerminkan antusiasme masyarakat yang berharap memperoleh keberkahan.
Dalam filosofi Jawa, kupat dimaknai sebagai “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan, sedangkan lepet diartikan sebagai “silep ingkang rapet”, yakni menutup kesalahan dengan erat.
Makna tersebut menggambarkan pentingnya saling memaafkan dan menjaga keharmonisan hubungan antar sesama.
Tradisi ini tidak hanya menjadi pesta rakyat, tetapi juga daya tarik wisata budaya yang memperkuat identitas lokal Jepara.
Diharapkan ke depan perayaan Lomban semakin meriah dan mampu menarik lebih banyak wisatawan.
Editor : Abdul Rochim