Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Trayek Kapal Berkurang, Barang Menumpuk, Begini Penyebabnya

Fikri Thoharudin • Rabu, 10 Juli 2024 | 19:30 WIB
SIAP KIRIM: Proses muat furniture di salah satu showroom di Kecamatan Tahunan baru-baru ini. FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS
SIAP KIRIM: Proses muat furniture di salah satu showroom di Kecamatan Tahunan baru-baru ini. FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS

TAHUNAN, Radar Kudus - Selain diakibatkan adanya konflik di Laut Merah, trayek kapal besar yang berkurang juga menyebabkan kenaikan biaya kontainer untuk kebutuhan mengirim barang hingga ke mancanegara. Barang menumpuk, menunggu trip kapal pengangkut.

Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Kabupaten Jepara, Antonius Suhandoyo menyebutkan kian naiknnya biaya angkut menggunakan kontainer atau freight cost tak hanya dialami oleh Indonesia.

"Kenaikan diakibatkan pasokan kontainer dan kapal induk yang trayeknya jarang. Sehingga otomatis kontainer yang ada kurang mendapat tempat di kapal," tanggapnya Selasa (9/7).

Hal tersebut menurut Antonius dapat disikapi dengan booking lebih awal. Namun mekanisme supply-demand dalam dunia perdagangan juga berlaku.

"Sebagaimana yang kita tahu, kalau supply-nya kurang, dan demand tetap ada, maka otomatis harga service tersebut menjadi mahal," ujarnya.

Dalam kasus kontainer ini, jadwal kedatangan dan keberangkatan kapal besar pembawa kontainer yang utama masuk ke pelabuhan besar di Indonesia frekuensinya turun.

"Ada banyak faktor dan pertimbangan sehingga jadwal trip pelayaran diputuskan, salah satunya tentu saja tingkat okupansi atau jumlah muatan angkut minimum yang harus ada dalam setiap kurun waktu tertentu," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Jepara, Anik Rosyidah menyampaikan fenomena kenaikan ongkos kapal sebetulnya terjadi sejak Januari lalu.

"Terkait dengan berkurangnya armada kapal yang jalan, hampir sama dengan masa Covid dulu. Hanya bedanya kalau saat itu karena banyak orang atau karyawan yang bekerja dari rumah," tanggapnya.

Sedangkan saat ini pihaknya juga membetulkan adanya masalah di Laut Merah. Di mana sekelompok orang bersenjata dari Israel melakukan screening terhadap kapal-kapal yang lewat apakah terkait dengan Yaman atau tidak. Begitupun sebaliknya.

"Sehingga banyak kapal yang mengubah rute untuk menghindari. Merubah rute otomatis menimbulkan biaya kapal yang bertambah. Akibatnya berdampak pada penumpukan barang yang berlebihan di Singapura sebagai tempat bergantinya kapal-kapal besar yang menuju negara-negara tujuan," jelasnya.

Baca Juga: Disparbud Jepara Daftarkan Warisan Budaya sebagai Kekayaan Intelektual

Pihaknya pun mengamati, terdapat perusahaan kapal yang mengurangi volume perjalanannya. Tak ayal kenaikan ongkos kapal tak terhindarkan.

Kenaikan diawali per bulan antara Januari-Februari, lalu kenaikan per dua pekan pada bulan April. Lalu disusul kenaikan per minggu antara Mei-Juni. Sementara untuk Juli kenaikan kembali terjadi per dua minggu. Diketahui bisa sampai 10 ribu USD. "Infonya untuk perjalanan ke Eropa akan naik lagi di bulan Agustus, tapi untuk Amerika Serikat kemungkinan tidak naik lagi," urainya.

Anik juga menyebut keadaan yang terjadi karena ketidakseimbangan antara space kapal yang tersedia dengan permintaan customer. "Kenaikan yang drastis memang untuk tujuan Eropa dan Amerika. Kalau Asia tidak terlalu terdampak drastis," pungkasnya. (fik/war)

Editor : Abdul Rochim
#manca negara #jepara #furniture jepara #konflik laut merah #HMKI #disperindag #Trayek