JEPARA, RADARPATI.ID — Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jepara saat ini masih berupaya agar bisa memasukkan pendidikan ukir jadi salah satu mata pelajaran (mapel) di sekolah.
Namun, ada sejumlah kendala yang dihadapi. Salah satunya adalah terbatasnya guru ukir di tiap sekolah.
Menurut Kepala Disdikpora Kabupaten Jepara Ali Hidayat melalui Kabid SMP Ahmad Nurrofiq keberadaan guru ukir murni di SMP sejauh ini masih terbatas.
Sebagian besar merangkap dengan guru seni rupa atau guru prakarya.
”Katakan saja, SMP negeri ada 39. Lalu swasta 51. Kan sudah 100. Nanti saat jadi mapel, harusnya tiap sekolah kan punya. Karena nanti masuk di raport,” ungkap Nurrofiq.
Dalam pengusulan pendidikan ukir jadi mapel, Disdikpora mengajukan lewat Kemendikbud.
Menurutnya, bila itu diakui oleh Kemendikbud, nanti bisa berefek pada dapodik. Sehingga gurunya pun bisa diakui jamnya mengajar.
Rofiq berharap, dengan adanya pendidikan ukir sebagai mata pelajaran sekolah, bisa terus melestarikan kesenian ukir Jepara.
Bila usulan itu disetujui, Rofiq mengaku akan mencari solusi lain terkait keberadaan tenaga pendidiknya.
Di sisi lain, ia mengakui dalam formasi yang ada saat ini belum terdaftar guru ukir.
”Namun adanya seni rupa,” kata Rofiq.
Menurut Rofiq, salah satu opsi yang dipertimbangkan agar jumlah guru ukir di Jepara bisa bertambah adalah dengan menggelar pelatihan.
Bisa dari guru atau penggiat ukir yang diberi diklat agar bisa memiliki sertifikasi guru ukir. (rom/war)