Pemprov Jateng Rencanakan Trans Jepara-Kudus-Pati, Angkot Kudus Jadi Penghubung

Abdul Rochim • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 20:03 WIB
Pemprov Jateng rencanakan trans Jepara-Kudus-Pati (Jekuti). (ANDIKA T/RADAR PATI)
Pemprov Jateng rencanakan trans Jepara-Kudus-Pati (Jekuti). (ANDIKA T/RADAR PATI)

KUDUS – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai menyiapkan pengembangan layanan Trans Jekuti (Jepara-Kudus-Pati).

Di Kabupaten Kudus, angkutan kota dan angkutan pedesaan yang selama ini melayani masyarakat berpeluang ditata menjadi angkutan penghubung atau feeder Trans Jekuti.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kudus Mundir mengatakan, konsep Trans Jekuti tidak semata-mata menggantikan angkutan yang sudah ada.

Baca Juga: Pertukaran Pelajar Lokal di Kudus Dilirik Daerah Lain

Angkutan lokal nantinya diarahkan menjadi pengumpan dari halte Trans Jekuti menuju berbagai tujuan masyarakat.

Menurut dia, skema tersebut memungkinkan penumpang yang turun dari bus Trans Jekuti melanjutkan perjalanan menggunakan angkutan lokal menuju tempat tujuan masing-masing.

Namun, Mundir menyebut detail trayek dan jumlah armada belum dapat dipastikan. Dishub Kudus masih menunggu hasil perencanaan serta survei dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

“Trayeknya kami menunggu yang dari provinsi. Perencanaannya di tahun 2026 ini, tetapi belum final,” jelasnya.

Kebutuhan armada feeder nantinya disesuaikan dengan hasil survei. Survei dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, sedangkan Dishub Kudus berperan mendampingi proses perencanaan di daerah.

“Kalau jumlah nanti disesuaikan dengan hasil survei. Hasil surveinya dari sana, bukan dari kami. Kami hanya mendampingi,” ungkap Mundir.

Untuk titik pemberhentian, Mundir menyebut Terminal Getas menjadi salah satu lokasi yang direncanakan. Selain itu, terdapat titik pemberhentian di Jetak, Kecamatan Kaliwungu.

“Titik pemberhentian, iya. Di Getas dengan yang di Jetak, dua itu saja,” katanya.

Program tersebut direncanakan mulai dilaksanakan pada 2027. Sebelum diterapkan, sejumlah aspek seperti trayek, halte, kebutuhan armada, hingga integrasi dengan angkutan lokal masih akan dimatangkan.

Organda Dorong Angkutan Lokal Dilibatkan

Ketua DPC Organda Kabupaten Kudus Mahmudun mengatakan, gagasan Trans Jekuti sebenarnya telah dibahas sejak sekitar tiga tahun lalu.

Dia mengaku pernah dipanggil Kepala Dishub Jawa Tengah yang saat itu juga menjabat Pj Bupati Pati, Henggar Budi Anggoro.

Saat itu, pemerintah provinsi telah membicarakan rencana pengembangan transportasi yang menghubungkan Jepara, Kudus, dan Pati dengan dukungan anggaran provinsi.

Mahmudun mengatakan Organda pada prinsipnya mendukung program tersebut. Namun, keberadaan angkutan lokal yang masih beroperasi perlu diperhatikan dalam proses penataan.

“Ya, tetap kita diskusi. Apa pun yang terjadi itu kita harus mendukung program pemerintah provinsi,” katanya.

Menurut dia, pelaku angkutan perlu dilibatkan dalam pembahasan lokasi halte, titik transit, hingga pola integrasi dengan angkutan yang sudah ada.

“Jadi tetap kita kolaborasi, kita ajak bicara mana-mana yang jadi tempat haltenya, mana-mana yang jadi tempat untuk transitnya dan lain sebagainya,” jelasnya.

Mahmudun menilai integrasi tersebut penting karena kondisi angkutan umum di Kudus saat ini menghadapi tantangan cukup berat.

Dari sekitar 22 trayek yang sebelumnya tersedia, kini hanya sekitar separuh yang masih berjalan. Dia memperkirakan trayek aktif tinggal sekitar 12 trayek.

“Yang tadinya 22 trayek, sekarang mungkin hampir 50 persen. Artinya tinggal 12 trayek atau berapa. Memang sangat ironis sekali,” ujarnya.

Salah satu penyebabnya adalah perubahan pola mobilitas masyarakat. Kehadiran transportasi daring seperti Gojek memberikan pilihan transportasi baru.

Di sisi lain, kepemilikan sepeda motor pribadi yang semakin tinggi juga mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap angkutan umum.

“Sekarang ada Gojek, ada online, sehingga angkutan umum yang usianya sudah agak tua semakin ditinggalkan oleh Gen Z atau masyarakat sekarang,” katanya.

Mahmudun juga menyinggung kondisi armada yang sudah berusia cukup tua serta kebiasaan masyarakat yang lebih memilih kendaraan pribadi.

Dia berharap penataan melalui Trans Jekuti dapat menjadi momentum untuk memperbaiki sistem transportasi umum di kawasan Jepara, Kudus, dan Pati tanpa mengabaikan keberadaan angkutan lokal.

Mahmudun menegaskan Organda siap terlibat dalam pembahasan bersama pemerintah.

“Ya, tetap, mau suka enggak suka ya mendukung. Karena apa pun, yang mengawali rembugan itu saya,” katanya. (dik/him)

Editor : Abdul Rochim
Trans Jekuti transportasi Kudus angkot Kudus Organda Kudus dishub kudus