JEPARA - Sekitar pukul 12.15, Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah tiba di lokasi bencana bersama Bupati Jepara Witiarso Utomo serta jajaran forkopimda.
Rombongan langsung meninjau ruas jalan yang terputus, termasuk jalur darurat hasil swadaya warga.
Di waktu yang sama, warga dibantu relawan dan tim BPBD tengah menyiapkan cadangan logistik pangan sebagai langkah antisipasi.
Di kawasan Kaliombo, tepat di jalur menuju Desa Tempur, Gubernur Ahmad Luthfi tanpa ragu menggulung celana panjangnya.
Air masih mengalir deras dari perbukitan, melimpas ke badan jalan sebelum bermuara ke Sungai Gelis.
Curah hujan yang masih tinggi membuat kawasan itu dipenuhi aliran air kecil bak air terjun yang “melahirkan” sungai-sungai baru.
Di sejumlah titik, jalan masih tertutup lumpur dan licin.
Luthfi kemudian menapaki jalan darurat yang menempel di tebing batu di sisi sungai.
Jalur selebar sekitar satu meter itulah kini menjadi satu-satunya akses keluar-masuk warga, setelah jalan utama terputus akibat gerusan Sungai Gelis dan longsor.
Ia turun hingga ke titik terparah. Langkahnya sempat terhenti saat berpapasan dengan warga bermotor yang tengah mengangkut logistik.
Gubernur menyapa dan memastikan distribusi kebutuhan pokok masih bisa dilakukan.
“Masih bisa lewat, Pak?” tanyanya singkat, yang dijawab anggukan oleh warga.
Bencana ini berdampak pada sedikitnya 3.642 jiwa dari 1.346 kepala keluarga di Desa Tempur. Longsor terjadi di setidaknya 24 titik.
Luthfi menyebut kondisi di Jepara menjadi salah satu yang terberat di Jawa Tengah.
“Hujan deras turun lima hari berturut-turut. Air dari gunung turun semua. Karena itu penanganannya tidak boleh setengah-setengah,” ujarnya.
Ia menekankan, kecepatan respons dalam situasi krisis menjadi kunci agar dampak tidak meluas.
Pemprov Jateng, kata dia, segera mengerahkan alat berat untuk membuka akses darurat.
Menurutnya, penanganan di Desa Tempur tidak cukup bersifat sementara.
Harus ada langkah struktural dan berkelanjutan, terutama penataan alur sungai serta penguatan badan jalan.
Perhatian khusus juga diarahkan pada kelompok rentan, terutama anak-anak usia sekolah.
Dalam tahap awal, pemerintah telah menyalurkan berbagai bantuan, mulai bahan pokok, dukungan kelompok usaha bersama (kube), hingga belanja tidak terduga (BTT) sebesar Rp 260 juta.
“Bantuan sudah kami salurkan dan akan kami tambah jika masih kurang,” katanya.
Luthfi menegaskan, Pemprov Jateng akan terus mengawal penanganan longsor di Desa Tempur hingga akses kembali normal dan warga bisa beraktivitas dengan aman.
Ia menyebut, logistik untuk warga terdampak telah dikirim ke tiga kabupaten sejak Senin (12/1).
“Saya bersama Wakil Gubernur melakukan cek ricek penanganan di beberapa daerah terdampak, yakni Kudus, Jepara, dan Pati. Namun yang paling parah memang di Desa Tempur, Jepara,” ungkapnya.
Bupati Jepara Witiarso Utomo mengapresiasi kehadiran Gubernur dan Wakil Gubernur di lokasi.
Menurutnya, kehadiran tersebut menjadi suntikan moral bagi warga.
“Ini menunjukkan masyarakat Tempur diperhatikan. Kehadiran beliau menjadi penguatan moril bagi warga dan bagi kami di daerah,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Jateng Imam Maskur menjelaskan, pihaknya telah menyalurkan bantuan logistik ke tiga kabupaten terdampak dengan sumber dana APBD Provinsi dan APBN.
Bantuan meliputi makanan siap saji, makanan anak, lauk pauk, tenda keluarga, tenda gulung, kasur, selimut, family kit, kids ware, hingga pakaian anak dan dewasa.
“Nilai bantuan untuk Jepara mencapai Rp 140.755.720, Kabupaten Pati Rp 133.306.218, dan Kabupaten Kudus Rp 188.014.483.
BPBD Jateng bersama BPBD kabupaten serta instansi terkait juga telah menerjunkan personel ke lokasi bencana,” terangnya. (fik/aua/dik/lin/him)
Editor : Abdul Rochim