Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Masjid Jamik Muhammad Arif, Banjaran, Bangsri, Saksi Penyebaran Islam di Jepara Utara

Moh. Nur Syahri Muharrom • Kamis, 28 Maret 2024 | 18:00 WIB

 

IKONIK: Penampakan atap Masjid Jamik Muhammad Arif Banjaran dengan latar belakang Gunung Muria.
IKONIK: Penampakan atap Masjid Jamik Muhammad Arif Banjaran dengan latar belakang Gunung Muria.

RADARPATI.ID - Masjid yang berdiri di dekat area persawahan di sisi timur ruas jalan lingkar Bangsri tampak menjulang.

Dengan atap tiga tingkat yang di pucuknya terdapat sebuah mahkota kecil, dan menara besi di sisinya.

Masjid tersebut terlihat gagah dengan latar belakang Gunung Muria. Pemandangan itu dimiliki Masjid Jamik Muhammad Arif yang terletak di Desa Banjaran, Kecamatan Bangsri, Jepara.

Di area masjid tersebut juga terdapat kompleks makam sang pendiri masjid, Muhammad Arif beserta keluarga dan para santrinya.

SAKSI SEJARAH: Seorang jamaah bersiap memasuki komplek Masjid Jami` Muhammad Arif.
SAKSI SEJARAH: Seorang jamaah bersiap memasuki komplek Masjid Jami` Muhammad Arif.

Abdun Nasir, Ketua Takmir Masjid Jamik Muhammad Arif menjelaskan, berdirinya masjid tersebut tak lepas dari kedatangan sosok pendatang, Muhammad Arif yang berasal dari Negeri Adn, Yaman, ke wilayah Jepara utara.

Ia lalu mendirikan masjid tersebut sebagai bagian dari ikghtiar menyebarkan Islam di Jepara, khususnya di wilayah Jepara bagian utara.

Masjid tersebut dibangun oleh sosok Muhammad Arif sekitar tahun 1226 Hijriah, atau bertepatan sekitar tahun 1811 Masehi.

”Dari peninggalan beliau, Mbah Muhammad Arif ini mungkin punya santri-santri. Karena di sini dahulu banyak tantangan.

Jadi bagian penyebaran Islam khususnya di Jepara utara. Dahulu mayoritas Hindu,” papar Nasir.

Baca Juga: Daftar Peninggalan Wali Joko di Dawe Kudus, Ada Beduk hingga Pohon Nagasari

Secara umum, Nasir menjelaskan masjid tersebut telah banyak mengalami perubahan. Terutama setelah dilaksanakan pemugaran besar-besaran sekitar tahun 1985.

Meski begitu, bangunan masjid yang ada itu tetap dipertahankan layaknya bentuk aslinya.

PENINGGALAN: Ketua Takmir Masjid, Abdun Nasir membaca kitab peninggalan Mbah Muhammad Arif, sosok pendiri Masjid Jamik Muhammad Arif.
PENINGGALAN: Ketua Takmir Masjid, Abdun Nasir membaca kitab peninggalan Mbah Muhammad Arif, sosok pendiri Masjid Jamik Muhammad Arif.

Salah satunya ciri khas atap tiga tingkat. Menurut Nasir, itu memiliki makna filosofi tiga tingkat kesempurnaan hidup.

Itu adalah syariat, makrifat, dan hakikat. Di sisi lain, beberapa bagian masjid yang telah ada sejak masjid itu berdiri juga masih tetap dipertahankan.

Di antaranya beduk, mimbar, hingga serpihan kayu yang dahulu jadi tiang masjid.

Selain peninggalan tersebut, terdapat satu peninggalan lagi yang masih tersimpan dari perjalanan dakwah sosok Muhammad Arif.

Itu berupa kitab berisi beragam catatan perjalanan, juga isi dakwah, hingga silsilah sosok Muhammad Arif.

Kitab tersebut disimpan di kediaman Abdun Nasir.

Kitab tersebut dijaga dan dirawat oleh keturunan sosok Muhammad Arif, khususnya bagi yang rumahnya tidak jauh dari Majid Jamik Muhammad Arif berada. (rom/war/ade)

PEDOMAN: Seorang jamaah berziarah ke komplek makam Mbah Muhammad Arif yang berada di belakang Masjid Jamik Muhammad Arif Bangsri.
PEDOMAN: Seorang jamaah berziarah ke komplek makam Mbah Muhammad Arif yang berada di belakang Masjid Jamik Muhammad Arif Bangsri.

Jadi Jujukan Awal sebelum Ziarah Walisongo

RADARPATI.ID - Keberasaan makam sosok Muhammad Arif di komplek Masjid Jamik Muhammad Arif turut meramaikan kunjungan masyarakat ke masjid tersebut.

Kompleks makam tersebut tepat berada di sisi belakang masjid yang berada di dekat ruas jalan Desa Banjaran, Bangsri.

Di kompleks pemakaman tersebut, terdapat makam Muhammad Arif dan istrinya, beserta keturunan dan para santrinya.

”Alhamdulillah dengan adanya perkembangan zaman, kemudian dengan adanya anak cucu, itu kan tersebar ke mana-mana.

Akhirnya kan orang pada tahu,” papar Abdun Nasir, Ketua Takmir Masjid Jamik Muhammad Arif.

SEMARAK RAMADAN: Pengajian sore yang diikuti para jemaah Masjid Jamik Muhammad Arif sebelum buka puasa.
SEMARAK RAMADAN: Pengajian sore yang diikuti para jemaah Masjid Jamik Muhammad Arif sebelum buka puasa.

Dari keterangannya, bila sebelum banyak diketahui siapa sosok Muhammad Arif tersebut, orang-orang Jepara khususnya Jepara bagian utara, memulai ziarah Walisongo dari kompleks Makam Mantingan.

“Tapi sekarang, khususnya wilayah Jepara utara, itu diawali dari sini (makam Mbah Muhammad Arif, Red), terus ke Mantingan, baru ke Walisongo. Makam ini terbuka 24 jam,” jelas Nasir.

Selama Ramadan ini, Masjid Jamik Muhammad Arif juga memiliki beragam kegiatan. Itu juga jadi alasan masjid tersebut ramai dikunjungi saat Ramadan.

Di antaranya kuliah sore yang diselenggarakan tiap kali menjelang magrib. Juga ada pengajian Ahad pagi, dan setiap Jumat usai subuh diselenggarakan tahkiman. ”Ini sudah berjalan sangat lama,” tandas Nasir. (rom/war/ade)

Editor : Alfian Dani
#bangsri #jepara #masjid jamik #banjaran #bangsri jepara #Penyebaran Islam