GROBOGAN- Bagi Khannaya Moza, peran mayoret menjadi ruang untuk menyalurkan hobi sekaligus belajar membangun keberanian, kedisiplinan, dan jiwa kepemimpinan.
Di balik sosoknya yang masih muda, tersimpan semangat besar untuk menekuni dunia marching band.
Menjadi mayoret bukan soal memimpin gerakan dan aba-aba, tetapi juga menjadi ruang bagi Khannaya untuk menyalurkan hobi.
Langkahnya mungkin belum sesering mayoret berpengalaman.
Namun, bagi Khannaya Moza, dunia marching band sudah menjadi bagian dari kesenangan yang ingin terus ditekuninya.
Hal itu bermula dari ketertarikan sejak kecil, ia mulai menjadi mayoret saat masih duduk di bangku SMP.
Kesempatan itu berlanjut hingga duduk di bangku SMKN 1 Purwodadi.
Siswi Jurusan Busana itu kini dipercaya menjadi mayoret.
Di usianya yang baru 15 tahun, Khannaya sudah tiga kali tampil dalam karnaval di Grobogan, pengalaman tersebut selalu menghadirkan kegembiraan tersendiri baginya.
“Kalau tampil itu happy dan semangat banget, karena memang aku suka hal-hal seperti ini,” ungkap siswi jurusan Busana tersebut.
Ketertarikan Khannaya pada marching band tumbuh secara alami.
Ia tak harus menunggu masuk SMK untuk mengenal dunia tersebut.
"Memang sudah sejak SMP mengenalnya. Namun, saat itu masih berlatih secara mandiri," imbuhnya.
Baru ketika melanjutkan sekolah di SMK ini, ia mendapat pendampingan khusus dari coach.
Latihannya pun terbilang sederhana.
Khannaya tidak menjalani latihan intensif setiap hari, melainkan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
Ketika ada penampilan, sekolah juga memberikan dispensasi sehingga ia bisa membagi waktu antara kegiatan marching band dan kewajiban belajar.
Meski begitu, menjadi mayoret bukan sekadar soal menguasai gerakan.
Menurutnya, seorang mayoret harus memiliki mental yang kuat dan jiwa kepemimpinan.
Sebab, peran tersebut menuntut keberanian untuk tampil sekaligus kemampuan memimpin tim agar penampilan berjalan selaras.
Dari pengalamannya selama ini, Khannaya juga menyadari masih ada hal yang perlu diperbaiki.
Ia merasa penampilannya belum selalu maksimal, salah satunya karena kesempatan latihan yang terbatas.
"Namun, pengalaman itu justru memberi pelajaran berharga," imbuhnya.
Bagi Khannaya, menekuni marching band bukan hanya tentang tampil di hadapan banyak orang, tetapi juga belajar memperbaiki diri, membangun kedisiplinan, dan memahami arti sebuah proses.
“Pelajaran terbesarnya, aku jadi lebih disiplin dan tahu kalau proses itu nggak ada yang instan,” tuturnya.
Bagi Khannaya, perjalanan sebagai mayoret masih panjang.
Berbekal ketertarikan yang tumbuh sejak kecil, ia ingin terus belajar dan menikmati setiap kesempatan tampil.
Sebab, di balik gerakan yang terlihat sederhana, ada proses yang mengajarkannya untuk berani, disiplin, dan bertanggung jawab. (int)
Editor : Intan Maylani Sabrina