GROBOGAN – Penutupan Jembatan Lusi Putat di ruas Lingkar Utara Purwodadi membuat pengendara harus mencari jalur alternatif.
Bagi warga sekitar, ada pilihan lain yang lebih praktis, yakni menyeberang menggunakan getek yang disediakan di sisi barat jembatan.
Suara mesin motor bergantian terdengar dari tepi Sungai Lusi. Satu per satu kendaraan dinaikkan ke atas perahu kayu yang beroperasi tepat di sisi barat Jembatan Lusi Putat.
Hanya butuh sekitar 2–3 menit untuk menyeberang ke sisi seberang.
Bagi warga sekitar, waktu singkat itu cukup menghemat perjalanan dibanding harus memutar melalui jalur darat.
Getek tersebut menjadi alternatif warga setelah Jembatan Lusi Putat di ruas Lingkar Utara Purwodadi ditutup sejak 31 Agustus hingga 28 November 2026.
Penutupan membuat pengendara harus memilih. Mengikuti jalur pengalihan yang telah disiapkan atau menyeberang Sungai Lusi menggunakan perahu kayu.
Bagi warga yang setiap hari beraktivitas di sekitar jembatan, memutar bukan perkara sederhana.
Jarak perjalanan bertambah dan waktu tempuh pun lebih panjang. Getek akhirnya menjadi pilihan.
Sekali Menyeberang Empat Motor
Jasa penyeberangan menggunakan getek mulai disediakan warga sejak Selasa (1/9). Perahu kayu itu dikelola warga Dusun Pulo, Desa Gebangan, Kecamatan Purwodadi.
Tarifnya Rp 3 ribu untuk sepeda motor umum. Anak sekolah cukup membayar Rp 2 ribu. Sedangkan pesepeda dikenai Rp 2 ribu untuk umum dan Rp 1 ribu bagi anak sekolah.
Layanan dibuka 24 jam. Sebanyak 12 warga bergantian menjaga penyeberangan dalam tiga sif, masing-masing sif diisi empat orang.
“Perahu geteknya sewa dari desa tetangga, tapi orang-orangnya sini. 24 jam dijaga bergantian. Per sif empat orang,” ujar salah satu pengelola, Arifin, warga Dusun Pulo, Desa Gebangan.
Tidak semua kendaraan bisa sekaligus naik. Dalam sekali perjalanan, petugas membatasi maksimal empat kendaraan.
Setelah penuh, getek perlahan didorong menyeberangi sungai. Perjalanan berlangsung singkat, sekitar 2–3 menit.
Dalam sehari, pendapatan jasa penyeberangan rata-rata sekitar Rp 200 ribu. Hasil tersebut kemudian dibagi kepada 12 warga yang terlibat mengelola gethek.
Bagi Kusnaini, 45, getek bukan sekadar alternatif. Penyeberangan itu menjadi cara agar aktivitas hariannya tetap berjalan tanpa harus menempuh perjalanan memutar.
Warga Desa Gebangan tersebut mengaku hampir empat kali sehari melintasi kawasan Jembatan Lusi Putat.
“Kalau nggak lewat sini harus memutar di Kelurahan Kuripan-Getas Pendawa-Jajar. Lumayan jaraknya,” ungkapnya.
Aktivitasnya cukup sering. Ia biasa menuju Getasrejo untuk menjenguk rumah maupun pergi ke sawah.
“Rumahnya Desa Gebangan. Mau ke Getasrejo. Mau jenguk-jenguk rumah yang di sana. Sehari bolak-balik empat kali. Biasanya ke sawah di daerah sana juga,” imbuhnya.
Daripada harus memutar berkali-kali dalam sehari, membayar Rp 3 ribu untuk menyeberang menjadi pilihan yang lebih masuk akal.
Pengendara Luar Daerah Ikut Memanfaatkan
Getek itu ternyata tidak hanya dimanfaatkan warga sekitar.
Bagas, warga Demak, setiap hari melintas menuju Blora melalui Jalan Lingkar Utara. Ia mengaku baru mengetahui adanya penyeberangan setelah mendapat informasi dari warga.
“Demak ke Blora lewat sini terus (Jalan Lingkar Utara). Nggak tahu kalau bisa lewat kota. Ini antre menyeberang sekitar 15 menitan nungguin. Dikasih tahu warga,” ujarnya.
Antrean pun sesekali muncul di tepian sungai. Pengendara menunggu giliran hingga gethek kembali dari seberang.
Di tengah jembatan yang tertutup dan kendaraan yang harus mencari jalan lain, perahu kayu sederhana itu menjadi penghubung sementara.(int)
Editor : Admin