GROBOGAN – Perbaikan jalan di Desa Bringin, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, dilakukan dengan penanganan struktur untuk mengatasi persoalan amblesan yang selama ini membuat rigid beton mudah pecah.
Ketua Pokja BPJ Kabupaten Grobogan, Radit Sumbodo, mengatakan penanganan di lokasi tidak hanya sebatas membongkar dan mengganti permukaan jalan yang rusak.
Struktur jalan diperkuat menggunakan metode borepile sebelum kembali dilakukan pengerasan dengan konstruksi rigid.
"Pekerjaannya jenisnya borepile, kemudian di-rigid kembali. Ini untuk menangani amblesan," ujar Radit.
Menurutnya, metode tersebut dipilih karena rigid yang sebelumnya terpasang kerap mengalami kerusakan.
Amblesan pada badan jalan membuat rigid mudah pecah sehingga diperlukan penguatan pada bagian struktur agar persoalan serupa tidak terus berulang.
"Di tengah keterbatasan anggaran, ini menjadi salah satu upaya untuk mengatasi rigid yang sering pecah," jelasnya.
Diketahui, pekerjaan peningkatan jalan tersebut mencakup ruas sepanjang 300 meter dengan lebar 7 meter.
Tahap awal dilakukan dengan membongkar rigid beton lama yang mengalami kerusakan, kemudian dilanjutkan penanganan struktur menggunakan borepile sebelum badan jalan kembali dikerjakan dengan rigid.
Hingga saat ini, progres pekerjaan mencapai 43 persen.
"Pengerjaan masih berlangsung secara bertahap dan membutuhkan waktu, terutama pada tahapan setelah pengecoran rigid," imbuhnya.
Radit menjelaskan, setelah rigid selesai dicor, jalan tidak bisa langsung digunakan secara normal.
Beton harus menunggu hingga mencapai umur yang dipersyaratkan agar memiliki kekuatan yang cukup sebelum dilalui kendaraan.
"Masih menunggu umur beton, baru bisa dibuka," katanya.
Sementara itu, selama pekerjaan berlangsung, arus lalu lintas di lokasi tetap diatur dengan sistem buka tutup.
Pengaturan dilakukan oleh petugas dari CV Hasta Karya Mandiri yang dilengkapi alat komunikasi handy talky (HT).
Sistem buka tutup diterapkan agar pekerjaan tetap berjalan sekaligus memberikan akses bagi kendaraan yang melintas.
Petugas di lapangan juga melakukan pengaturan secara bergantian untuk mencegah antrean kendaraan menumpuk terlalu panjang.
Pekerjaan tersebut dijadwalkan berlangsung selama dua bulan, terhitung mulai 3 Agustus hingga 3 Oktober 2026.
Namun, pembukaan jalan tetap menyesuaikan tahapan pekerjaan dan kondisi konstruksi, khususnya masa tunggu rigid hingga mencapai kekuatan yang dipersyaratkan.
Dengan penanganan borepile dan rigidisasi kembali, perbaikan di Desa Bringin diharapkan tidak hanya menyelesaikan kerusakan yang terlihat di permukaan.
Penguatan struktur menjadi bagian penting untuk mengatasi amblesan sekaligus mengurangi risiko rigid kembali pecah setelah jalan digunakan.
Radit mengatakan, kualitas konstruksi menjadi perhatian agar perbaikan yang dilakukan dapat memberikan hasil yang lebih tahan lama.
"Harapannya, setelah struktur bawah ditangani dan rigid kembali, jalan bisa lebih kuat dan persoalan amblesan maupun rigid yang sering pecah dapat diminimalkan," pungkasnya. (int)
Editor : Support