181 Balita di Grobogan Alami Gizi Buruk

Intan Maylani Sabrina • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 19:42 WIB
KESEHATAN: Puskesmas saat memberikan bantuan ke balita.
KESEHATAN: Puskesmas saat memberikan bantuan ke balita.

GROBOGAN – Ancaman gizi buruk masih membayangi Kabupaten Grobogan. Hingga Juni 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Grobogan mencatat 181 balita mengalami gizi buruk.

Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Grobogan, dr. Endah Yuli Ratnawati, dari jumlah tersebut, wilayah Puskesmas Pulokulon I menjadi penyumbang kasus terbanyak dengan 21 balita berstatus gizi buruk.

Di sisi lain, Dinkes juga menangani kasus bayi berusia satu bulan di wilayah kerja Puskesmas Toroh II dengan berat badan hanya 2,3 kilogram dan panjang badan 49 sentimeter.

"Bayi tersebut kini mendapat penanganan intensif untuk mengejar kondisi gizinya," ungkapnya.

Menurut dr. Endah, sebagian besar kasus gizi buruk tidak berdiri sendiri.

Selain pola asuh orang tua yang belum optimal, banyak kasus diperberat dengan penyakit penyerta sehingga proses pemulihan menjadi lebih panjang dan kompleks. 

Selain dipengaruhi pola pemberian makan yang kurang tepat, sejumlah balita juga memiliki penyakit penyerta seperti kelainan jantung bawaan, tuberkulosis (TB), bronkopneumonia, hingga Down syndrome.

Kondisi tersebut membuat berat badan anak sulit meningkat meski telah mendapatkan asupan gizi.

"Anak dengan penyakit penyerta memang membutuhkan penanganan lebih intensif karena proses pemulihan gizinya tidak semudah balita tanpa penyakit penyerta," ujarnya.

Untuk mempercepat pemulihan, Dinkes mengandalkan Ready to Use Therapeutic Food (RUTF), makanan terapi siap santap dengan kandungan energi, protein, vitamin, dan mineral tinggi yang dikhususkan bagi balita gizi buruk.

Bantuan tersebut telah didistribusikan ke puskesmas-puskesmas di Grobogan.

Namun, ketersediaannya masih sangat terbatas. Setiap puskesmas baru menerima sekitar dua hingga tiga paket RUTF, sehingga belum mampu menjangkau seluruh balita yang membutuhkan terapi.

Selain RUTF, pemerintah juga menyalurkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dari Kementerian Kesehatan.

Makanan siap konsumsi yang dimasak oleh kader kesehatan itu diberikan sebagai tambahan asupan gizi selama proses pemulihan balita.

Pihaknya menegaskan, penanganan gizi buruk tidak cukup hanya dengan memberikan makanan tambahan.

Peran keluarga, terutama orang tua, menjadi kunci utama dalam memastikan anak memperoleh asupan gizi yang seimbang, pola makan yang benar, serta pemeriksaan kesehatan secara rutin.

Melalui pendampingan tenaga kesehatan, pemantauan pertumbuhan di posyandu, hingga pemberian terapi makanan khusus.

Dinkes berharap angka gizi buruk di Grobogan dapat terus ditekan dan balita yang terdampak segera pulih sehingga tumbuh sehat dan optimal. (int)

Editor : Admin
gizi buruk kesehatan grobogan