GROBOGAN– Grobogan Agro Expo (GAE) VIII Tahun 2026 resmi dibuka, Rabu (3/6). Ajang pertanian terbesar di Kabupaten Grobogan itu menjadi momentum percepatan transformasi pertanian modern melalui penerapan smart farming guna mendukung keberlanjutan swasembada pangan.
Bupati Grobogan, Setyo Hadi, menegaskan bahwa sektor pertanian saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari fluktuasi harga komoditas, keterbatasan sumber daya hingga meningkatnya kebutuhan pangan masyarakat.
Karena itu, penerapan smart farming dinilai menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing pertanian.
Menurutnya, smart farming bukan hanya soal penggunaan alat dan teknologi modern, tetapi juga perubahan pola pikir serta cara kerja dalam mengelola usaha tani.
“Pemanfaatan teknologi digital harus menjadi bagian dari proses pertanian. Tujuannya untuk meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, serta menghasilkan produk pertanian yang lebih berkualitas dan berkelanjutan,” ujar Setyo Hadi.
Expo yang berlangsung pada 3–7 Juni 2026 tersebut mengusung tema “Mendukung Keberlanjutan Swasembada Pangan Melalui Smart Farming.”
Tema itu dinilai selaras dengan upaya pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus menjawab tantangan sektor pertanian di masa mendatang.
Setyo Hadi menambahkan, keberhasilan mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata.
Dibutuhkan sinergi berbagai pihak, mulai dari dunia usaha, lembaga keuangan, perguruan tinggi, hingga petani sebagai pelaku utama sektor pertanian.
“Kolaborasi menjadi kunci. Jika semua pihak bergerak bersama, maka cita-cita mewujudkan pertanian yang maju, mandiri, dan modern akan lebih mudah tercapai,” tegasnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, Kukuh Prasetyo Rusady, mengatakan GAE VIII 2026 tidak sekadar menjadi ajang pameran produk pertanian.
Kegiatan tersebut juga dirancang sebagai sarana edukasi, promosi inovasi, serta penguatan jejaring usaha bagi pelaku pertanian.
Tahun ini, penyelenggara menargetkan sekitar 60 ribu pengunjung selama lima hari pelaksanaan.
Pengunjung berasal dari kalangan petani, pelajar, mahasiswa, akademisi, pelaku agribisnis hingga masyarakat umum dari 19 kecamatan di Kabupaten Grobogan.
Beragam kegiatan edukatif dan interaktif disuguhkan dalam expo tersebut. Mulai dari pameran teknologi pertanian, demplot varietas unggul, pameran UMKM, bimbingan teknis, temu usaha, Ngopi Tani Live, pentas budaya, donor darah, bakti sosial hingga berbagai perlombaan.
Sebanyak 47 stan teknologi pertanian turut meramaikan expo dengan menampilkan beragam inovasi, mulai dari sarana produksi pertanian, alat dan mesin pertanian (alsintan), layanan pendukung usaha tani hingga produk unggulan perangkat daerah terkait.
Tak hanya itu, terdapat pula 23 demplot pertanian yang memperkenalkan varietas unggul tanaman pangan, hortikultura, perkebunan serta berbagai teknologi budidaya modern kepada masyarakat dan petani.
Dinas Pertanian Grobogan juga menampilkan sejumlah inovasi unggulan, seperti koleksi plasma nutfah, demplot smart farming, hingga penangkaran burung hantu dan reptil yang dimanfaatkan sebagai pengendali hama tikus secara alami dan ramah lingkungan.
Di sisi lain, pameran UMKM menjadi ruang promosi bagi petani, petani milenial, Kelompok Wanita Tani (KWT), serta pelaku usaha kecil dan menengah untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan produk olahan hasil pertanian lokal.
Melalui penyelenggaraan GAE VIII 2026, Pemkab Grobogan berharap semakin banyak masyarakat yang mengenal pertanian modern berbasis teknologi.
Selain itu, expo ini juga diharapkan mampu menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian yang kini semakin inovatif dan menjanjikan. (int)
Editor : Admin