GROBOGAN – Satlantas Polres Grobogan mengungkap penyebab kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya dengan mobil Avanza putih di perlintasan kereta api tanpa palang antara Desa Sidorejo dan Desa Tuko, Kecamatan Pulokulon, Jumat (1/5/2026) dini hari.
Hasil penyelidikan sementara menunjukkan kecelakaan terjadi akibat pandangan sopir yang sangat terbatas saat melintasi jalur rel. Jarak pandang pengemudi disebut kurang dari 10 meter sehingga tidak mengetahui adanya kereta yang melaju dari arah barat ke timur.
Kasatlantas Polres Grobogan AKP Kumla Enggar Anjarani melalui Kanit Gakkum IPTU Arie Eko menjelaskan, mobil Avanza tersebut melaju dari arah selatan ke utara dan hendak melintasi rel tanpa palang.
Saat sampai di lokasi perlintasan, sopir diduga tidak melihat datangnya KA Argo Bromo Anggrek yang melintas dari arah Jakarta menuju Surabaya.
Akibat benturan keras tersebut, mobil yang berisi sembilan penumpang itu terpental hingga sekitar 10 meter.
Kendaraan bahkan sempat menghantam tiang jaringan internet sebelum akhirnya terjatuh ke area persawahan di sekitar lokasi kejadian.
“Kecelakaan ini karena pandangan terbatas kurang dari sepuluh meter. Akibat dari kecelakaan tersebut ada empat korban meninggal dunia dan dua luka ringan,” ujar IPTU Arie Eko.
Petugas kepolisian langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengevakuasi kendaraan menggunakan truk derek untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.
Baca Juga: Antar Jemaah Haji, Mobil Tertemper KA Argo Bromo Anggrek di Grobogan
Mobil Avanza tersebut diketahui merupakan rombongan pengantar calon jemaah haji asal Desa Sidorejo.
Kendaraan itu menjadi mobil kedua dari total empat mobil rombongan yang mengantar pasangan calon jemaah haji, Nardi dan Wartini, menuju keberangkatan.
Mobil pertama berisi pasangan jemaah haji tersebut, sedangkan dua mobil di belakangnya berisi keluarga, tetangga, serta warga sekitar yang ikut mengantar.
Mobil yang tertabrak diketahui membawa sembilan penumpang yang merupakan anak, cucu, hingga besan dari keluarga calon jemaah haji.
Dari total sembilan penumpang, empat orang meninggal dunia yakni Nayla Dwi Kartika (10), warga Desa Mlowokarangtalun, Shazia Belfania (2), warga Desa Sidorejo, serta Dalny (51) dan Muhammad Sya’roni (51), keduanya warga Desa Kemloko, Kecamatan Godong.
Korban meninggal terdiri dari dua cucu keluarga dan dua besan dari pasangan calon jemaah haji yang hendak berangkat ke Tanah Suci.
Seluruh korban langsung dievakuasi oleh petugas Polsek Panunggalan bersama warga sekitar menuju Puskesmas Pulokulon untuk penanganan medis.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan saat melintasi perlintasan kereta api tanpa palang, terutama pada malam hingga dini hari saat jarak pandang terbatas. (mun)
Editor : Abdul Rochim