GROBOGAN- Kabar gembira datang dari Dusun Krajan di Desa Putatsari, Kecamatan Grobogan. Rabu (17/9), Presiden Prabowo Subianto melantik Farida Farichah sebagai Wakil Menteri Koperasi.
Bagi keluarga dan warga sekitar, berita ini mengejutkan sekaligus membanggakan.
Di rumah orang tuanya yang sederhana, suasana tampak lengang.
Sang ibu dan kakaknya ikut berangkat ke Jakarta sejak Rabu dini hari.
Mereka tak tahu, perjalanan itu berakhir dengan momentum bersejarah, menyaksikan Farida resmi menjadi bagian Kabinet Merah Putih.
“Selasa malam dikasih tahu untuk ke Jakarta. Masih nunggu tiket dulu karena adanya kereta jam 01.00 dini hari. Kemudian saya antar sampai Stasiun Ngrombo. Saat itu yang berangkat ibu, kakak, dan adiknya. Tapi saat belum ada yang tahu kalau besoknya dilantik jadi wakil menteri,” kenang Kholid Almujjahidin, sepupu Farida.
Diungkapkan, Farida lahir di Grobogan 20 Juli 1986 dari pasangan petani, almarhum M Thohir dan Hj Istiqomah.
Ayahnya bukan hanya petani biasa, melainkan juga kiai yang disegani di kampung.
Sejak 1977 hingga akhir hayatnya, M Thohir setiap malam mengajar ngaji anak-anak selepas magrib.
Hal itu dilakukan di musala dekat rumahnya.
Dari rumah kecil yang dipenuhi suasana religius itulah, Farida tumbuh dengan disiplin dan nilai-nilai yang kuat.
Sejak kecil, Farida sudah menunjukkan kecerdasan.
Ia bersekolah di SD Negeri 1 Putatsari, sambil belajar agama di Madrasah Diniyah Miftahut Thullab, Kedungdung, Sampang.
Setelah itu, ia melanjutkan ke MTs Yarobi Grobogan dan lulus dengan predikat terbaik.
Di SMA Negeri 1 Grobogan, prestasinya kembali bersinar.
Ia tercatat sebagai siswi dengan nilai ujian nasional tertinggi di sekolahnya.
Meski cerdas, jalan hidup Farida tidak bergelimang kemewahan.
Saat kuliah di Universitas Negeri Semarang (UNNES) jurusan Pendidikan Kimia pada 2004, ia hanya mendapat uang saku yang cukup dari orang tua.
Sisanya ia cari sendiri dengan menjadi asisten laboratorium dan penulis ilmiah.
Di tengah kesibukan kuliah, ia juga menimba ilmu agama di pesantren, membagi waktunya antara laboratorium dan kajian kitab kuning.
Perjuangannya berbuah manis saat melanjutkan studi ke Institut Pertanian Bogor (IPB).
Ia meraih gelar Magister Sains Kimia cumlaude dengan riset tentang nanopartikel kitosan pada 2011.
Namun, di balik gelar akademik itu, Farida tetap rendah hati, aktif di organisasi NU, dan konsisten mendorong perempuan muda agar percaya diri berkiprah di masyarakat.
Langkahnya terus menanjak. Dari Wakil Sekretaris PP IPPNU, Ketua Umum PP IPPNU, hingga Wakil Sekretaris PP Fatayat NU.
Di jalur politik, ia bergabung dengan PKB, pernah dua kali maju sebagai caleg DPR RI meski belum berhasil.
Ia juga menimba pengalaman di pemerintahan, mulai menjadi asisten ahli di Kementerian Desa hingga tenaga ahli DPR RI selama tiga periode.
Meski disibukkan dengan karier politiknya, Farida juga masih kerap pulang setiap beberapa bulan sekali.
Saat Lebaran, ia tak pernah absen membagi santunan dan bahkan pernah menyediakan tiket mudik gratis untuk warga.
“Terakhir pulang ke sini dua pekan lalu. Kalau pulang ya silaturahim keluarga saja,” ujar Kholid.
Kini menjadi puncak karier dari anak ke empat dari delapan bersaudara ini.
Pada 17 September 2025, anak petani dari Grobogan itu dipanggil Presiden.
Farida resmi menjabat Wakil Menteri Koperasi menggantikan Ferry Juliantono.
Kisah Farida adalah potret nyata bahwa dari sawah dan pesantren di desa kecil pun bisa lahir pemimpin nasional.
Ia membuktikan bahwa kerja keras, ilmu, dan doa orang tua mampu membuka jalan hingga ke istana.
“Kaget, tapi juga bangga,” tutur Kholit lirih, mewakili perasaan keluarga dan warga desa.
“Semoga bisa menjalankan amanah ini dengan baik.”
Kepala Desa Putatsari, Sumarno, menambahkan, ikut bangga dan tidak menyangka warganya ada yang menjadi Wakil Menteri.
"Semoga ke depan bisa membawa maju desa kelahirannya," harap Marno. (int)
Editor : Syaiful Amri