Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Tradisi Unik Tubo di Grobogan: Perburuan Ikan di Sungai yang Sarat Makna Toleransi

Intan Maylani Sabrina • Rabu, 11 September 2024 | 02:19 WIB
UNIK: ratusan warga tumpah ruah di sungai Tuntang saat tradisi Tubo.
UNIK: ratusan warga tumpah ruah di sungai Tuntang saat tradisi Tubo.

GROBOGAN, RadarPati,ID-  Warga Desa Ngombak dan Desa Karanglangu di Kecamatan Kedungjati memiliki tradisi unik yang diwariskan turun-temurun.

Setiap dua tahun sekali, mereka menggelar tradisi yang dikenal dengan sebutan Tubo.

Ritual yang sudah berjalan ratusan tahun ini melibatkan perburuan ikan di Sungai Tuntang.

Pada pukul 10.00 pagi, warga kedua desa mulai berkumpul di tengah sungai yang mengalir deras, siap berbasah-basahan untuk menangkap ikan.

Mereka membentuk barisan sepanjang sekitar tiga kilometer, mengular di sungai berkedalaman 40 meter untuk berburu ikan yang telah teracuni secara tradisional.

Sebelum perburuan dimulai, para sesepuh desa mengadakan doa bersama dan menyiapkan racun ikan tradisional yang disebut "Racun Tubo."

Ramuan ini terbuat dari akar tumbuhan *Tuba* (Derris elliptica), yang mengandung rotenone, zat beracun yang ampuh membunuh ikan dan serangga.

Dalam prosesnya, akar Tuba dicampur dengan ketela pohon dan air, lalu diolah menjadi racun yang siap disebar ke sungai.

Setelah didoakan, beberapa warga terjun ke sungai untuk memecahkan gentong dan menumpahkan racun *Tubo* ke aliran air.

Racun ini membuat ikan-ikan keracunan dan naik ke permukaan, sehingga warga yang berada di tepi sungai langsung menangkap ikan-ikan tersebut.

Menurut Kepala Desa Ngombak, Heriyanto, tradisi Tubo bukan hanya soal berburu ikan, tetapi juga simbol persatuan dan toleransi yang diwariskan oleh nenek moyang.

Kepercayaan akan sosok Kedhana dan Kedhini, yang diyakini sebagai pendiri kedua desa, menjadi landasan kuat tradisi ini.

Legenda menyebutkan bahwa Kedhana dan Kedhini adalah saudara kandung yang terpisah sejak kecil.

Keduanya bertemu kembali setelah dewasa dan nyaris menikah, sebelum menyadari bahwa mereka sebenarnya adalah kakak-adik.

Pertemuan tersebut kemudian diperingati dengan Tradisi Tubo, yang melambangkan rasa syukur dan persatuan antara kedua desa.

Ikan-ikan hasil tangkapan kemudian dimasak bersama dan menjadi hidangan yang dinikmati oleh seluruh warga, mempererat tali persaudaraan antara Desa Ngombak dan Desa Karanglangu, serta menjadi bukti nyata toleransi antarwarga yang terus terjaga hingga hari ini. (*)

Editor : Abdul Rochim
#warisan leluhur #tradisi #kedungjati #Tubo