Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Jembatan di Pulokulon Grobogan Nyaris Roboh, Tak Dapat Dilalui Roda Empat

Abdul Rochim • Selasa, 10 September 2024 | 02:33 WIB
MEMPRIHATINKAN: Kondisi jembatan penghubung Desa Sidorejo dan Jatiharjo Kecamatan Pulokulon, Grobogan nyaris roboh. (INTAN MAYLANI/RADAR PATI)
MEMPRIHATINKAN: Kondisi jembatan penghubung Desa Sidorejo dan Jatiharjo Kecamatan Pulokulon, Grobogan nyaris roboh. (INTAN MAYLANI/RADAR PATI)

GROBOGAN, RadarPati.ID – Sebuah jembatan yang menghubungkan dua desa antara Desa Sidorejo dan Desa Jatiharjo Kecamatan Pulokulon kondisinya  memprihatinkan.

Selama tiga tahun terakhir ini, tiga tiang penyangga jembatan miring dan nyaris roboh. Membuat kendaraan roda empat tak bisa melintas.

Tak hanya tiang penyangga jembatan yang miring, kondisi jembatan pun memiliki kondisi yang melengkung.

Hal tersebut membuat tak bisa dilalui roda empat lagi. Kendaraan roda dua pun harus berhati-hati.

Diketahui, jembatan berwarna hijau itu berdiri di atas sungai dari Bendung Simo.

Memiliki panjang kurang lebih 100 meter dan lebar 2,5 meter.

”Untuk kondisi kerusakan sudah hampir dua tahun dan hampir tiga tahun lamanya.

Mulanya yang paling barat, disusul dua tiang lainnya.

Ini semakin parah kondisinya, mobil sudah tidak berani melintas. Hanya kendaraan roda dua saja,” jelas Kepala Desa Jatiharjo Eko Agus Prasetyo.

Miringnya tiang-tiang jembatan membuat lantai jembatan yang terbuat dari beton bergelombang.

”Kalau melintas di atasnya memang nggak terlihat, hanya bergelombang saja. Tapi kalau dilihat dari samping, bahaya ya. Tiangnya sudah miring sekali itu,” ungkapnya.

Pihaknya berharap Pemkab Grobogan bisa membantu penanganan jembatan yang kini masih menjadi milik desa tersebut.

”Jembatan milik Desa Sidorejo. Sempat dilimpahkan asetnya ke pemkab tapi belum di-acc.

Untuk perbaikan jika menggunakan dana desa (DD) akan membutuhkan biaya yang besar. Kami harap ada bantuan perbaikan dari BPBD maupun Dinas PUPR,” harapnya.

Sedangkan salah satu warga Sidorejo, Hendrik mengaku khawatir setiap melintasi jembatan tersebut.

“Kalau bawa roda dua, mau nggak mau setiap hari lewat sana. Tapi harus pelan-pelan, takut jika sewaktu-waktu roboh.

Kalau harus muter sekitar 8-10 kilometer. Harus muter lewat Tuko-Panunggalan dulu,” keluhnya.

Adanya jembatan tersbeut  menjadi akses satu-satunya untuk pendidikan, perekonomian hingga ke sawah.

Jika terputus, tentunya akan melumpuhkan perekonomian warga di dua desa tersebut. (int/him)

Editor : Abdul Rochim
#desa sidorejo #jembatan #grobogan #BPBD