Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Kekeringan Parah, Warga Desa Karanganyar Grobogan Harus Gali Sumur di Sungai Kering

Intan Maylani Sabrina • Selasa, 30 Juli 2024 | 02:42 WIB
KEKERINGAN: Warga Desa Karanganyar, Kecamatan Geyer, Grobogan, mengambil air di sumur belik belum lama ini. (INTAN MAYLANI SABRINA/RADAR KUDUS)
KEKERINGAN: Warga Desa Karanganyar, Kecamatan Geyer, Grobogan, mengambil air di sumur belik belum lama ini. (INTAN MAYLANI SABRINA/RADAR KUDUS)

GROBOGAN, RADARPATI.ID - Kekeringan telah melanda beberapa daerah di Kabupaten Grobogan, dengan dampak yang cukup parah dirasakan oleh warga Desa Karanganyar, Kecamatan Geyer.

Sebagian dari mereka terpaksa membuat sumur di tengah sungai yang mengering, atau yang dikenal sebagai belik, untuk mendapatkan air yang mereka butuhkan.

Roni, seorang warga Dusun Karanganyar, mengungkapkan bahwa mereka telah menggunakan sumur belik sejak sebulan terakhir.

Mereka memanfaatkan aliran sungai yang kering dengan membuat belik.

Air yang diperoleh digunakan untuk mandi, mencuci, memasak, dan memberi minum ternak. Proses mengambil air ini membutuhkan kesabaran.

Warga harus menunggu air menetes dan terkumpul di dalam lubang yang mereka buat di belik tersebut.

Lubang dengan kedalaman sekitar 1 meter ini menjadi tumpuan hidup warga.

Jika lubang tersebut sudah tidak mengeluarkan air, warga akan berpindah tempat untuk membuat lubang baru.

"Kami terpaksa membuat belik di sungai agar mendapatkan air, karena sumur di perkampungan sudah kering semua," tuturnya.

Setiap harinya, Roni harus mengambil air empat hingga lima kali untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Jarak antara sungai dan permukiman sekitar 500 meter. Ketika sumur belik sudah mengering, mereka akan meninggalkannya dan membuat sumur baru lagi.

"Sekarang jaraknya 500 meter. Tapi nanti kalau kekeringan semakin parah, biasanya jaraknya bisa tambah jauh lagi, mungkin sekitar 1 kilometer untuk mencari sumber air lain," katanya.

Menurut Roni, memanfaatkan air dari belik ini dirasa lebih ekonomis karena tidak mengeluarkan biaya.

"Kalau beli, setiap tangki air harganya Rp 300 ribu. Jadi, untuk menghemat pengeluaran, kami mengambil air di sini saja (belik berjarak sekitar 500 meter, Red). Kalau harus beli air terus, tentu memberatkan," ujarnya.

Warga berharap ada pihak yang memberikan bantuan air sehingga bisa membantu memenuhi kebutuhan air sehari-hari. (int/him)

Editor : Abdul Rochim
#sungai #air #air bersih #grobogan #kekeringan