GROBOGAN, RADARPATI.ID - Sebanyak 21 Puskesmas uji sampel air di 21 desa.
Hasilnya hanya 1 persen (25 sampel) dari 315 sampel aman untuk dikonsumsi.
Kepala Dinkes Grobogan dr Slamet Widodo mengatakan, pengambil sampel diambil di titik sarana air minum berupa perpipaan PDAM dan non-PDAM, mandiri (sumur gali, mata air, PAH, dan sumur bor).
Untuk sarana air minum ada dua titik yang diambil sampel.
Yakni, yang siap minum diambil dari wadah seperti dispenser, gelas, teko, dan lainnya.
Titik kedua, dari kran atau sarana air minum terdekat.
Setelah pengambilan sampel, dilanjutkan dengan dengan pemeriksaan 19 parameter (e-coli, coliform, suhu, TDS, kekeruhan, warna, bau, pH, nitrat, nitrit, kromium valensi 6, besi, mangan, sis klor, arsen, kadmium, timbal, floride dan aluminium).
“Dari sampel yang diambil dari tempat yang siap minum, didapatkan hasil 25 sampel atau hanya 1 persen air aman dikonsumsi,” jelasnya.
Dia mengatakan, dari hasil tersebut rata-rata disebabkan karena cemaran mikrobiologi.
Yakni, berupa bakteri e-coli hingga berbagai jenis bakteri lain atau colonial total coliform.
Serta ada yang tercemar kedua bakteri tersebut.
“Hal tersebut dikarenakan uji mikrobiologi sangat sensitif sekali. Bisa dikarenakan penggunaan tempat minum yang berulangkali dipakai tanpa dicuci.
Kemudian juga karena menggunakan tempat minum yang langsung bersentuhan dengan bibir, hingga penggunaan botol air mineral sebagai wadah minum yg berulangkali,” terangnya.
Dari sampel yang diambil dari kran hingga sumur, semuanya tidak memenuhi syarat.
“Yang paling khas kalau di Grobogan ada total disolved solid (TDS) atau zat padat terlarut yang tinggi melibihi baku mutu.
Sehingga air tersebut memang tak layak untuk dikonsumsi,” tegasnya. (int/mal)
Editor : Alfian Dani