GROBOGAN, RADARPATI.ID - Upaya Pemkab Grobogan dan warganya dalam menangani penyakit HIV/AIDS terus digencarkan.
Pasalnya, kasus penyakit mematikan ini di Kabupaten Grobogan menduduki posisi keempat se-Jawa Tengah.
Dukungan dari lintas sektoral dan penggerakan warga peduli AIDS (WPA) juga diperlukan dalam pengentasan kasus tersebut.
Kepala Dinkes Grobogan dr Slamet Widodo menyebut, kasus HIV/AIDS di Grobogan Januari hingga Oktober mencapai 159 kasus temuan baru.
Sedangkan selama kurun waktu 2002 hingga Oktober 2023, total terdapat 1.591 kasus. Saat ini berada di ranking ke empat dari 34 kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Data tersebut disampaikan pada Talk Show dengan tema 'Bergerak Bersama Akhiri AIDS 2030' yang berlangsung di Aula Dinkes Grobogan, bertepatan dengan Hari AIDS sedunia.
”Memang untuk kasus kematian akibat HIV/AIDS mengalami penurunan angka. Selama kurun waktu dua tahun ini, angka kematian kurang dari 2 persen,” jelas Bambang.
Diketahui, kecamatan dengan kasus tertinggi ada di Kecamatan Purwodadi, Toroh dan Wirosari.
"Wilayah perkotaan itu lebih banyak karena kehidupan masyarakat di sana lebih kompleks," sebutnya.
Sedangkan untuk jenis pekerjaan tertinggi diduduki wiraswasta dan disusul ibu rumah tangga.
”Banyaknya ibu rumah tangga, upaya kami selama ini dengan melakukan skrining pada ibu hamil dengan rutin pemeriksaan antanetal care (ANC) di puskesmas. Bumil yang positif HIV/AIDS harus melakukan persalinan secara operasi caesar. Ini menjadi solusi agar penularan penyakit itu tidak meluas pada bayi,” ungkapnya.
Menurutnya, adanya talk show tersebut dimaksud untuk membangun komitmen bersama pemangku kepentingan.
Dalam pencegahan dan penanggulangan AIDS di Grobogan ini. Bahkan, pihaknya menargetkan eliminisasi HIV/AIDS bisa terwujud pada 2030 mendatang.
Sedangkan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Grobogan Rahayu Ismarwini mengatakan di Grobogan kasus HIV/AIDS diderita ibu rumah tangga cukup tinggi.
Hal itu menyebabkan sasaran skrining lebih banyak dilakukan pada perempuan ketimbang lelaki.
”Padahal, potensi penularan lebih banyak terjadi pada pria. Utamanya yang bekerja di luar daerah. Penularan bisa melalui transaksi seks dan lain sebagainya," jelasnya. (int/him)
Editor : Alfian Dani