RADAR PATI - DI usia yang baru menginjak 22 tahun, Nuhayaus Aunila mulai menapaki jalannya sendiri di dunia kreatif.
Perempuan asal Desa Klumpit, Kecamatan Gebog, Kudus, ini, kini sibuk membangun dua usaha sekaligus.
Yakni jasa make up artist (MUA) dan wedding content creator (WCC).
Kesibukan itu, menjadi bagian dari perjalanan yang tidak ia rancang sejak awal.
Baca Juga: Tekuni Kedokteran Hewan, Alasan Sosok asal Rembang Ini Bikin Haru
Lulusan Program Studi Bimbingan Konseling Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah, UIN Sunan Kudus ini, justru menemukan jalannya di bidang kreatif yang berangkat dari hobi dan ketertarikan pribadi.
Perempuan yang akrab disapa Nuhaya ini mengaku, dunia make up mulai ia tekuni sejak 2022. Awalnya, ia hanya menyukai aktivitas merias sebagai hobi.
Namun, ketertarikan itu ia seriuskan dengan mengikuti kursus, agar kemampuan yang dimiliki semakin terasah.
Dari sana, perlahan ia mulai menerima klien dan menjadikan keterampilannya sebagai ladang usaha.
“Awalnya memang dari hobi. Saya suka make up. Terus kepikiran kenapa nggak diseriusi sekalian. Akhirnya ikut kursus dan mulai buka jasa sendiri,” ujarnya.
Dalam sehari, Nuhaya bisa menangani hingga 10 orang untuk dirias. Terutama saat musim hajatan.
Namun rata-rata, ia menerima tiga hinga lima customer per hari. Baginya, pekerjaan sebagai MUA bukan hanya soal merias wajah, tetapi juga membangun rasa percaya diri klien di momen penting mereka.
Tak berhenti di situ, awal tahun ini, ia juga merintis usaha wedding content creator (WCC).
Berbeda dengan videografer biasa, WCC yang ia jalankan lebih fokus pada pengambilan momen di balik layar atau behind the scene dalam prosesi pernikahan.
Konten itu, kemudian dikemas secara cepat dan menarik untuk kebutuhan media sosial pengantin.
Ketertarikannya di dunia konten, ternyata sudah tumbuh sejak kuliah.
Saat aktif berorganisasi, Nuhaya dipercaya di bidang komunikasi dan informasi (kominfo), tempat ia belajar teknik pengambilan gambar, video, hingga pengelolaan konten digital.
Pengalaman itu, menjadi bekal penting dalam memgembangkan WCC yang kini mulai ia jalani.
Selain itu, perempuan yang juga aktif sebagai moderator dan MC freelance ini, punya rekam jejak panjang di dunia jurnalistik. Sejak SMA, ia sudah mengikuti ekstrakurikuler jurnalistik.
Minat itu, berlanjut hingga bangku kuliah dengan bergabung dalam organisasi jurnalistik kampus. Juga terlibat langsung dalam berbagai liputan.
“Saya memang suka dunia jurnalistik dari dulu. Suka nulis, suka liputan, dan itu banyak membantu saya sekarang. Terutama dalam melihat angle konten dan bercerita lewat visual,” katanya.
Meski kini lebih nyaman menekuni dunia kreatif, Nuhaya mengaku, sebenarnya masih memiliki minat besar di bidang pendidikan, sesuai dengan jurusan yang ia ambil saat kuliah.
Menjadi guru masih menjadi kemungkinan di masa depan. Namun, ia ingin menjalani dengan penuh dedikasi.
Bukan sekadar untuk mencari pekerjaan. (dik/lin)
Editor : Abdul Rochim