RADAR PATI - KEPEDULIAN dr. Novy Oktaviana terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK) di Kabupaten Pati melahirkan sebuah wadah. Kini tempat itu menampung ratusan anak istimewa.
Melalui komunitas tersebut, ia berupaya menghadirkan ruang aman sekaligus membuka peluang bagi mereka untuk berkembang dan mendapatkan hak pendidikan yang layak.
Tidak hanya berpraktik di bidang medis, ia juga aktif memperjuangkan hak-hak anak yang kerap terpinggirkan itu.
Baca Juga: Panggilan Jiwa, Sosok Perempuan di Kudus Ini dengan Sabar Asuh Santri Autis
Perjalanannya mendampingi ABK bermula dari pengalaman pribadi yang menyentuh hati.
Saat pertama kali bertemu dengan anak-anak disabilitas dan para orang tua mereka, dr. Novy merasa tersentuh melihat kenyataan yang dihadapi.
Banyak anak yang kesulitan berbaur, bahkan kerap mengalami perundungan dan perlakuan kurang menyenangkan dari lingkungan sekitar.
Kondisi itu mendorongnya untuk menghadirkan ruang aman bagi mereka.
Dari keprihatinan tersebut, ia mendirikan Griya Harapan pada tahun 2022.
Komunitas ini menjadi wadah bagi anak-anak disabilitas untuk mengembangkan potensi diri, sekaligus tempat bagi para orang tua untuk saling berbagi cerita dan dukungan.
Di sana, para peserta tidak hanya mendapatkan pendidikan karakter dan penguatan soft skill, tetapi juga kesempatan untuk menggali bakat yang selama ini terpendam.
Seiring berjalannya waktu, Griya Harapan berkembang. Jika awalnya hanya diikuti puluhan anak, kini jumlah pesertanya telah mencapai sekitar 400 anak.
Layanannya pun telah menjangkau beberapa wilayah, seperti Winong, Trangkil, Tayu, dan Pati Kota. Ke depan, dr. Novy berencana memperluas jangkauan dengan membuka cabang baru di Jaken, Juwana, dan Margoyoso.
Baginya, mengabdikan diri untuk anak-anak istimewa memberikan kebahagiaan tersendiri.
Ia bahkan mengaku semakin termotivasi untuk terus mengembangkan program tersebut, terutama jika didukung oleh sumber daya manusia dan fasilitas yang memadai.
Metode pembelajaran di Griya Harapan juga dirancang berbeda dengan Sekolah Luar Biasa (SLB).
Jika SLB berfokus pada kurikulum pendidikan umum, Griya Harapan lebih menitikberatkan pada pengembangan potensi khusus, pembentukan karakter, serta penanaman nilai empati dan kebiasaan saling menyayangi.
Meski demikian, keduanya tetap berjalan selaras dan saling melengkapi.
Selain itu, keterlibatan orang tua menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.
Dr. Novy menilai bahwa dukungan keluarga merupakan faktor utama dalam perkembangan anak, sehingga orang tua juga diberikan motivasi dan pendampingan selama proses berlangsung.
Ia meyakini bahwa anak-anak disabilitas memiliki peluang yang sama untuk berkarya.
Melalui Griya Harapan, mereka diharapkan dapat memperoleh hak pendidikan yang layak sekaligus ruang untuk tumbuh dan berkembang sesuai potensi masing-masing. (adr)
Editor : Abdul Rochim