Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Naila Aziza asal Jepara Ini Sosok Pengajar yang Piawai Jadi Bilingual MC

Abdul Rochim • Kamis, 30 Oktober 2025 | 01:02 WIB
Naila Aziza
Naila Aziza

RADAR PATI  - DI balik sosok muda yang lembut dan bersahaja, tersimpan semangat besar untuk terus belajar dan mengajar.

Naila Aziza, 23, mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara, ialah potret nyata generasi yang tumbuh dengan ketekunan, kemandirian, dan kecintaan terhadap ilmu bahasa.

Perempuan kelahiran, 12 Juli 2002, dan besar di Desa Mindahan Kidul, Kecamatan Batealit, Jepara, ini tumbuh dalam lingkungan yang sederhana.

Sejak duduk di bangku sekolah, ia sudah akrab dengan dunia pesantren.

Empat tahun menimba ilmu di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor Putri Kampus II, kemudian satu tahun mengabdi di Riau, membentuk karakter disiplin dan pantang menyerah dalam dirinya.

”Bahasa mengubah dan menuntun hidupku hingga menjadi seperti saat ini,” tuturnya sumringah, Rabu (29/10).

Semangat Naila dalam mengajar muncul sejak awal kuliah semester pertama. Ia mulai memberikan les privat Bahasa Inggris dan Arab kepada siswa SD dan SMP.

”Semester dua masih ngajar juga, tapi sambil jualan makanan secara online. Aku pingin tetap produktif, isi waktu dengan hal yang bermanfaat,” ujarnya.

Semester demi semester berlalu, dan Naila semakin aktif. Di semester ketiga, ia bergabung dalam organisasi mahasiswa sekaligus memperdalam kemampuan bahasa secara otodidak.

Pintu kesempatan pun terbuka lebar ketika ia mendapat tawaran menjadi bilingual MC, membawakan acara dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris, bahkan sesekali juga Arab.

Kini, perannya bukan hanya sebagai pengajar dan pemandu acara.

Tahun 2024–2025, Naila dipercaya menjadi volunteer interpreter dalam ajang Jepara International Furniture Buyer Weeks (JIFBW), serangkaian forum pameran berskala global yang mempertemukannya dengan para pengusaha dan tamu luar negeri.

”Selain itu, paling berkesan kalau dapat narasumber atau pemateri dari luar negeri. Bisa ngobrol langsung, dan ternyata mereka humble banget," katanya penuh senyum.

Rutinitas Naila terbilang padat. Pagi hari ia mengajar di MAN 1 Jepara, kemudian melanjutkan aktivitas mengajar privat hingga malam, dari pukul 13.00 sampai 22.00.

Acapkali ia memanfaatkan waktu untuk istirahatnya pada sela siang hari, sekitar pukul 10.00–12.00. Meski demikian, semangatnya tak pernah padam. Ia menjalani semua dengan tulus, karena baginya mengajar adalah panggilan jiwa.

Kegigihannya juga berbuah penghargaan. Sejak semester lima hingga delapan, Naila menerima beasiswa dari Baznas Jepara lewat jalur aktivis.

”Itu salah satu bentuk apresiasi yang membuatku makin yakin, kalau usaha dan niat baik pasti ada jalan,” katanya.

Di tengah kesibukan, Naila menyiapkan skripsi yang menarik, yaitu modifikasi permainan tradisional congklak atau dakon untuk pembelajaran Bahasa Inggris.

Ide ini muncul dari pengalaman mengajarnya di MAN 1 Jepara, ketika ia menyadari siswa mudah bosan dengan metode konvensional.

”Setiap hari harus pakai banyak game biar anak-anak semangat. Aku coba congklak, ular tangga, puzzle, ternyata seru dan efektif," jelasnya.

Dari situ, lahirlah keinginannya untuk terus mengembangkan pembelajaran yang menyenangkan dan kontekstual.

Naila tak berhenti bermimpi. Sejak semester enam, ia sudah menyiapkan rencana besar dengan membuka lembaga kursus bahasa sendiri di daerah asalnya.

Administrasi, kurikulum, hingga tempat belajar sudah ia siapkan secara bertahap.

”Setelah lulus nanti langsung launching. Aku ingin kursus ini bisa jadi wadah belajar yang fleksibel dan menyenangkan,” ujarnya optimis.

Menariknya, sebagian besar kemampuan bahasa yang dimiliki Naila justru ia pelajari secara otodidak.

Di sela-sela waktu luangnya, ia memperdalam kemampuan berbicara melalui internet dan aplikasi seperti Duolingo.

”Kebanyakan hal yang membuatku berkembang itu karena benturan. Mulanya diminta jadi bilingual MC, padahal belum siap. Tapi justru dari situ aku belajar cepat,” katanya.

Baginya, bahasa bukan sekadar keterampilan komunikasi, melainkan jembatan menuju masa depan yang lebih luas. "Bahasa adalah kunci. Kalau mau menggenggam dunia, ya pakai bahasa. Bahasa itu paspor," terangnya.

Naila Aziza adalah cermin generasi muda Jepara yang berani melangkah melampaui batas.

Dengan tekad kuat dan semangat belajar tanpa henti, ia membuktikan bahwa bahasa bukan hanya alat untuk berbicara, tetapi juga jembatan untuk menembus ruang-ruang baru di dunia global.

Dari Desa Mindahan Kidul, Batealit, langkah kecilnya dimulai.

Kini, dengan bekal pengalaman, doa, serta tekad baja, ia melangkah mantap membawa nama Jepara ke panggung dunia. (fik/him)

Editor : Abdul Rochim
#Bilingual #jepara #pengajar #Sosok