Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Pentas Produksi Kelima, Teater STAI Pati Angkat Problem “Rumput Tetangga Lebih Hijau”

Achmad Ulil Albab • Sabtu, 1 Februari 2025 | 20:22 WIB
Teater AS Sekolah Tinggi Agama Islam Pati (STAI Pati) berhasil menggelar pentas produksi kelimanya pada Jumat (31/1) malam.  (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)
Teater AS Sekolah Tinggi Agama Islam Pati (STAI Pati) berhasil menggelar pentas produksi kelimanya pada Jumat (31/1) malam. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)

 

 

PATI – Teater AS Sekolah Tinggi Agama Islam Pati (STAI Pati) berhasil menggelar pentas produksi kelimanya pada Jumat (31/1) malam.

Kali ini, mereka membawakan lakon berjudul Laras karya Dukut, yang mengangkat kisah kehidupan sehari-hari dalam masyarakat.

Pementasan ini mengisahkan dinamika dua keluarga, yakni Sumi dan Riyadi serta Agus dan Tiara.

Cerita ini berpusat pada problematika hidup yang diibaratkan dengan peribahasa rumput tetangga lebih hijau.

Agus, yang diperankan oleh Imron, mulai tergoda dengan kesederhanaan dan kasih sayang yang dimiliki Sumi, yang dimainkan oleh Meylina. Padahal, Sumi adalah istri Riyadi sekaligus tetangga mereka.

Godaan itu muncul karena Agus merasa jenuh dengan istrinya, Tiara (Syakira), yang lebih mementingkan harta dibandingkan kasih sayang.

Di sisi lain, kondisi ekonomi keluarga Sumi yang terbatas membuat Agus berani mengambil kesempatan untuk mendekatinya.

Agus mengetahui bahwa Riyadi, suami Sumi, yang bekerja sebagai tukang, kerap kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka.

Kecurigaan Tiara terhadap suaminya mulai muncul ketika ia sering melihat Agus berhenti di depan rumah Sumi.

Kecurigaannya semakin menjadi saat ia mengetahui bahwa Agus berniat membeli burung milik Riyadi dengan harga tinggi.

Situasi semakin memanas saat dua teman Tiara, Ratna (Fida) dan Ayu (Clara), membicarakan isu pelet.

Tiara pun semakin yakin bahwa burung bernama Laras itu adalah media pelet yang digunakan Sumi untuk memikat Agus.

Konflik antara kedua keluarga pun tak terhindarkan. Beruntung, Ratna dan Ayu berusaha menenangkan keadaan agar tidak menjadi pemicu pertikaian lebih lanjut.

Namun, amarah Tiara kembali tersulut saat ia mendapati Agus masih berusaha menggoda Sumi.

Ketegangan akhirnya mereda ketika Riyadi (Ustman) pulang ke rumah. Ia mencoba menjadi penengah dan membahas persoalan tersebut.

Pada akhirnya, Agus berani mengakui bahwa ia merasa tidak bahagia dalam pernikahannya karena kurangnya kasih sayang dari Tiara.

Pengakuan ini membuat Tiara menyadari kesalahannya, sehingga keduanya kembali memperbaiki hubungan mereka.

Di sisi lain, Sumi meminta maaf kepada Riyadi karena sempat terpengaruh oleh rayuan Agus.

Riyadi pun menunjukkan cintanya dengan memberikan sejumlah uang kepada Sumi, yang membuatnya terharu.

Ternyata, Riyadi rela menjual burung kesayangannya demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

Sutradara pementasan, Difa Taufiq, menuturkan bahwa kisah ini mengajarkan pentingnya bersyukur dan tidak mudah tergoda oleh apa yang tampak lebih baik di mata orang lain.

"Lewat cerita ini, kita diingatkan bahwa sesuatu yang terlihat indah belum tentu demikian. Mensyukuri apa yang kita miliki adalah kunci kebahagiaan," ujarnya.

Difa bersama Eko Rismawan mengemas pertunjukan ini dalam genre realis komedi, yang membuatnya lebih menarik tanpa kehilangan pesan moralnya.

"Cerita seperti ini banyak terjadi di sekitar kita. Kadang kita lupa akan hal-hal kecil yang dapat merusak keharmonisan rumah tangga. Lewat pementasan ini, kami ingin mengingatkan pentingnya mengendalikan ego demi hubungan yang lebih baik," tambahnya.

Sementara itu, Ketua Teater AS STAI Pati, Erfina Kusuma, menjelaskan bahwa pentas produksi ini merupakan bagian dari proses pembelajaran selama tiga bulan terakhir.

Selain sebagai bentuk pengkaderan dalam komunitas seni kampus, pementasan ini juga bertujuan untuk memperkuat keterampilan mahasiswa dalam seni teater.

"Kami berharap pentas ini tidak hanya meningkatkan keilmuan dan bakat seni mahasiswa STAI Pati, tetapi juga memberikan nilai positif yang dapat mereka bawa ke masyarakat nantinya," tutupnya. (aua)

 

Editor : Achmad Ulil Albab
#mahasiswa #STAI Pati #masyarakat #pentas produksi #teater #problem #keseharian