
BLORA – Di tengah dominasi pertanian berbasis kimia, Rakam, petani muda asal Desa Sumber, Kecamatan Kradenan, memilih menekuni budidaya padi organik.
Bersama petani yang tergabung dalam Asosiasi Petani Organik Selaras Alam Sejahtera, ia mengembangkan varietas beras organik Mentik Susu yang kini mulai dikenal masyarakat.
Beras hasil panen mereka dipasarkan dalam kemasan dua kilogram dengan merek Beras Alami Pusaka Tani.
Ciri khasnya terletak pada bulir yang lebih pendek, berwarna putih, serta memiliki aroma yang khas.
Baca Juga: 20 SD Negeri di Blora Belum Dapat Murid, Dinas Perpanjang Pendaftaran hingga Tanggal Ini
Menurut Rakam, pertanian organik memang membutuhkan tenaga kerja lebih banyak dibandingkan sistem konvensional.
Namun dari sisi bahan baku, biaya produksi justru lebih hemat karena memanfaatkan sumber daya alami yang tersedia di lingkungan sekitar.
“Pertanian organik memerlukan tenaga kerja lebih banyak, sehingga biaya awal terlihat lebih tinggi. Tetapi bahan bakunya jauh lebih murah karena memanfaatkan sumber daya alami yang ada di sekitar lahan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam jangka panjang kebutuhan pupuk organik dari luar lahan akan semakin berkurang.
Hal itu karena kandungan bahan organik di dalam tanah terus meningkat seiring pengembalian jerami hasil panen ke sawah.
Pada proses budidaya, petani menggunakan kompos sebagai pupuk dasar saat pengolahan lahan.
Kompos dicampurkan secara merata menggunakan traktor. Sementara pemupukan susulan dilakukan saat kegiatan osrok atau penyiangan gulma yang dilakukan hingga empat kali dalam satu musim tanam.
Rakam berharap kelompok petani organik di Desa Sumber dapat memiliki fasilitas pascapanen sendiri, seperti mesin pengering dan penggilingan padi.
Selama ini mereka masih menggunakan jasa penggilingan umum yang juga digunakan untuk padi konvensional sehingga berisiko tercampur.
“Kalau memiliki pengering dan penggilingan sendiri, kualitas beras organik bisa lebih terjaga dan tidak tercampur dengan beras nonorganik,” katanya.
Saat ini beras organik Mentik Susu dipasarkan dengan harga Rp 20 ribu per kilogram dan dijual dalam kemasan dua kilogram.
Selain penjualan langsung, pemasaran juga dilakukan melalui media sosial untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.
Dukungan pemerintah daerah turut menjadi motivasi bagi para petani muda untuk terus mengembangkan pertanian organik.
Rakam mengaku optimistis budidaya padi organik memiliki prospek yang baik karena semakin banyak masyarakat yang mulai peduli terhadap pangan sehat dan ramah lingkungan. (tos)
Editor : Abdul Rochim