BLORA - Ribuan petani tebu Blora yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora menggelar aksi demonstrasi di Alun-alun Blora.
Tiga tuntutan disuarakan atas kekhawatiran petani tebu terhadap potensi kerugian saat musim giling tebu.
Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Pati, rombongan rombongan massa aksi mulai tiba di area Alun-alun mulai pukul 10.00.
Baca Juga: Lansia Hilang Lima Hari Ditemukan Meninggal di Hutan Todanan Blora
Massa aksi petani tebu Blora memenuhi jalanan menuju Alun-alun Blora dengan menggunakan truk ke Alun-alun Blora.
Massa aksi menaiki bak truk dan sebagian membawa bendera merah putih, serta menggenggam poster sederhana bertuliskan keluhan tentang nasib tebu mereka yang kian tak menentu.
Ribuan petani mendesak agar Bulog segera merealisasikan janji untuk membenahi Pabrik Gula Gendhis Multi Manis (GMM) serta mengoperasionalkannya kembali pada musim giling 2026.
Ketua DPC APTRI Blora Sunoto mengatakan, para petani tebu yang melakukan aksi damai di Alun-alun Blora itu hanya menuntut tiga hal kepada Direktur Utama Bulog dan pemerintah pusat.
Tuntutan itu yakni, terkait operasional mesin di pabrik GMM segera diselesaikan pada musim giling tebu 2025.
“Tuntutan yang kedua agar ada pergantian manajemen di PT GMM. Ketiga, mana kala Dirut Bulog tidak sanggup mengoperasionalkan ya mohon diikhlaskan agar dipegang orang-orang yang memang lebih menguasai (kompeten)," tegasnya.
Sunoto mengatakan, pihaknya juga pernah bertemu langsung dengan Direktur Utama Perum Bulog, pada Rabu 14 Januari 2026. Pada pertemuan itu, ia mengaku dijanjikan 2026 dapat beroperasi dengan mesin baru.
Dengan syarat, sambung Sunoto, ada deviden dari Perum Bulog kepada pemerintah sebesar tujuh persen. Sehingga bila permohonan yang diajukan disetujui maka mesin GMM akan diperbaharui.
“Saat ini Perum Bulog belum memberikan informasi terhadap kejelasan dan kesanggupan tersebut. Padahal petani tebu sangat menantikan kejelasan dan ketegasan tersebut,” ungkapnya.
Ditambahkan, pihaknya membawa masa aksi sekitar 2000 simpatisan, selanjutnya juga membawa truk sebanyak 193 unit, dan terakhir membawa 4 traktor.
"Kalau tuntutan ini tidak terpenuhi maka akan dilakukan masa aksi yang lebih besar lagi dan akan demo di Jakarta,” katanya.
Koordinator aksi, Wahyuningsih, menegaskan demonstrasi dilakukan secara damai tanpa tindakan anarkis. Aparat keamanan dari TNI dan Polri turut mengawal jalannya aksi agar tetap kondusif.
“Blora sebagai salah satu sentra tebu berisiko kehilangan momentum produksi, sementara petani menghadapi ancaman kerugian besar akibat hasil panen yang tak terserap,” tuturnya. (ari)
Editor : Abdul Rochim