Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Petani di Siderejo Blora Galakkan Pertanian Organik, Begini Hasilnya

Abdul Rochim • Selasa, 12 Agustus 2025 | 01:48 WIB

 

TANGGUH: Warga Desa Sidorejo, Kecamatan Kedungtuban saat melakukan pemindahan benih tanaman padi.
TANGGUH: Warga Desa Sidorejo, Kecamatan Kedungtuban saat melakukan pemindahan benih tanaman padi.

BLORA – Enam tahun menggalakkan pertanian organik, kini Desa Sidorejo, Kecamatan Kedungtuban yang memiliki hingga 30 Hektare sawah jadi percontohan.

Jumlah lahan pertanian organik di desa tersebut terluas di Blora dibandingkan desa-desa lain.

Kepala Desa Sidorejo Agung Heri Susanto mengatakan kesadaran untuk memulai pertanian organik lantaran sempat terjadi gagal panen berulangkali.

Yang ditengarai akibat penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang sudah berlebih.

Terlebih sejak 1980 tanah di desa tersebut ditanami setahun tiga kali yang semuanya padi. Diperparah dengan penggunaan pupuk kimia yang makin berlebih.

"Pemupukan kimia di sini sudah di atas rata-rata standar. Standarnya 1 hektare, pemupukannya 3,5 kwintal. Nah di sini sudah sampai 5 kwintal sampai 1 ton per hektare," tambahnya.

Ia pun mengkalkulasi, pola itu dipakai sejak 1990 hingga 2020, atau selama 30 tahun.

Dengan demikian tiap satu hektare lahan telah terkontaminasi 90 ton pupuk kimia.

"Dampaknya, lambat laun, hasilnya gak maksimal. Tanah capek. Pernah sama sekali gak panen. Karena pupuk kimia ini kan ada residu. Akhirnya kami mencoba mencari solusi agar pertanian sebagai mata pencaharian warga desa kembali pulih. Lahan normal. Mendapatkan penghasilan dari pertanian," tambahnya.

Pihaknya pun mencari solusi dengan berkoordinasi dengan berbagai lintas sektor. Dari dinas pertanian, NGO, ahli, akademisi, dan berbagai pihak lain.

"Solusi tepat yang diarahkan kembali menjalankan praktik kembali ke alam. Organik," imbuhnya.

Akhirnya dimulai dengan melakukan banyak diskusi, edukasi, untuk memberikan pemahaman ke masyarakat. Kemudian dari situ barulah mulai didemonstrasikan secara perlahan.

"Dengan dukungan tenaga ahli bidang organik, berbagai stakeholder kami berupaya mengembalikan kesuburan tanah.

Kesehatan tanah dan proses pengolahannya," paparnya.

Perlahan namun pasti akhirnya masyarakat mulai menerapkan. Hingga sampai tahapan lanjutan. Seperti memproduksi pupuk organik sendiri.

"Bisa produksi kompos dan pupuk organik sendiri. Jadi sampai akhirnya benar-benar zero kimia. Satu genggam pun gak ada pupuk dan pestisida kimia," bebernya.

Untuk pestisida organik diolah dengan mikroorganisme lokal di lingkungan sekitar. Seperti rebung, bonggol pisang, mahoni, dan tumbuhan pahit lainnya.

"Didampingi tenaga ahli, warga membuat pestisida hayati. Mandiri," jelasnya.

Selain itu dibentuk juga kelompok pertanian organik. Yakni Jemari Agung. Yang juga memproduksi pupuk organik, caik, hingga pestisida.

"Alhamdulillah hasil panen baik. Tanah kembali baik. Bisa dikerjakan dengan hasil baik, petani menikmati," tuturnya.

Menurutnya awal-awal memang tak banyak petani yang percaya. Sebab cara berpikir mereka sudah terkontruksi dengan cara bertani konvensional. Yang sudah turun temurun.

"Beroganik gak mudah. Kalau organik masyarakat agak ribet. Meramu sendiri. Berbeda dengan beli. Namun secara ekonomis menguntungkan. Lebih murah. Bahan ada di sekitar," terangnya.

Akhirnya untuk meyakinkan masyarakat, dimulai dengan membuat demplot 3 hektare saja. Kemudian juga didorong dengan kebijakan.

Agung Heri yang juga menjadi Ketua Praja Blora itu mewajibkan para perangkat desa, agar tanah bengkoknya harus digarap secara organik.

"Perangkat desa jadi motor penggerak. Setengah sampai 1 Hektare harus organik, untuk masing-masing perangkat desa," imbuhnya.

Dari situlah kini setidaknya sudah ada 30 hektare lahan di Desa Sidorejo yang diolah secara organik. Mulai dari pengolahan, pemupukan hingga penggunaan pestisida.

"Hasilnya kita punya produk beras organik. Sudah dipasarkan tingkat lokal maupun di luar daerah sampai Jakarta, Palembang dan luar Jawa lain," tukasnya.

Beberapa beras organik yang dihasilkan itu yakni jenis mentik susu, cierang, beras merah. Dengan beragam jenis itu, pembeli bisa leluasa memilih. (tos/him)

Editor : Abdul Rochim
#pupuk kimia #pupuk organik #pertanian organik #blora #percontohan