Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Baby Volcano di Kradenan, Legenda Ular Naga Joko Linglung

Intan Maylani Sabrina • Jumat, 16 Agustus 2024 | 23:49 WIB
WISATA: Salah satu wisata alam bernama Bledug Cangkring Baby Volcano di Desa Grabagan Kecamatan Kradenan.
WISATA: Salah satu wisata alam bernama Bledug Cangkring Baby Volcano di Desa Grabagan Kecamatan Kradenan.

GROBOGAN, RADAR PATI- Keberadaan Bledug Cangkring atau Baby Volcano di Desa Grabagan Kecamatan Kradenan masih kalah pamor dibanding Bledug Kuwu.

Keberadaannya ternyata masih menjadi berhubungan dengan sejarah Ular Naga Jaka Linglung Putra Aji Saka.

Destinasi wisata di Bledug Cangkring sama dengan Bledug Kuwu, yakni terdapat fenomena geologi berupa letupan lumpur.

Lokasinya pun tak jauh dari Bledug Kuwu. Namun memang memiliki intensitas letupan yang lebih kecil sekitar 1 meter. 

Masyarakat sekitar lebih familiar dengan sebutan baby volcano, karena letupan lumpur yang kecil itu.

Setidaknya masih ada tiga titik yang memiliki ukuran letupan setinggi 1 meter. Sedangkan letupan lainnya sangat kecil.

Lokasinya pun seluas 1 hektare, terhampar dengan gunungan lumpur.

Letupan kecil ini tak hanya mengandung gas, namun juga mengandung garam.

Saat-saat tertentu, suara letupan juga terdengar cukup keras.

”Meski terbilang lebih kecil jika dibanding Bledug Kuwu.

Tempat ini masih erat kaitannya dengan legenda Joko Linglung juga. Kalau dulu kepala Ular Naga Aji Saka ada di Bledug Kuwu, ekornya ada di Bledug Cangkring ini.

Baca Juga: Dilengkapi Virtual Reality, Pengunjung Museum Jenang di Kudus Rasakan Petualangan di Kota Nabi, Begini Kata Pengunjung

Kemudian juga terhubung ke Desa Crewek Kecamatan Kradenan, saat itu Joko Linglung keluarnya sambil mewek, makanya desanya dinamakan Crewek,” jelas Kepala Desa Grabagan, Eko Setyawan.

Kawasan wisata sejarah yang kini menjadi wisata desa ini juga mulai dikelola dengan baik oleh desa setempat.

Pengunjung yang masuk hanya dipungut biaya Rp 5 ribu.

Masyarakat bisa menikmati beberapa fasilitas seperti gardu pandang hingga saung-saung.

Selain melihat letupan lumpur, pengunjung juga bisa menyaksikan proses pembuatan garam murni yang dilakukan petani garam di desa setempat. (int/him)

Editor : Abdul Rochim
#bledug kuwu #Vulkanolog #ular naga #Bledug Cangkring #legenda #aji saka binangun