Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Usai Kericuhan Persib vs Persebaya, Viking Tegaskan Rivalitas Harus Berhenti di Lapangan

Mahendra Aditya Restiawan • Kamis, 5 Maret 2026 | 10:19 WIB

BIG MATCH: Persebaya Surabaya Vs Persib Bandung.
BIG MATCH: Persebaya Surabaya Vs Persib Bandung.

RADAR PATI - Hubungan antar-suporter dalam sepak bola Indonesia kembali diuji setelah insiden yang terjadi dalam rangkaian pertandingan antara Persib Bandung dan Persebaya Surabaya di Surabaya.

Organisasi suporter Viking Persib Club akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi yang menyoroti kekerasan yang terjadi serta menegaskan ulang batas rivalitas di sepak bola.

Pernyataan tersebut bukan sekadar reaksi emosional atas kericuhan, melainkan juga refleksi tentang masa depan hubungan antarsuporter yang selama ini digadang-gadang sebagai simbol rekonsiliasi di sepak bola nasional.

Baca Juga: Klasemen Liga 1: Puncak Liga 1 Dipegang Persib, Persija dan Borneo FC Terus Mengancam

Amanat Persaudaraan dari Generasi Pendahulu

Ketua Viking Persib Club, Tobias Ginanjar, menegaskan bahwa kehadiran perwakilan Viking di Surabaya tidak memiliki agenda konfrontatif.

Mereka datang untuk menjalankan amanat moral yang diwariskan para pendiri komunitas suporter.

Salah satu tokoh yang disebut adalah Ayi Beutik, figur legendaris dalam sejarah suporter Persib yang dikenal mendorong terciptanya hubungan baik antara kelompok suporter dari Bandung dan Surabaya.

Menurut Tobias, pesan tersebut menjadi dasar mengapa sebagian anggota Viking tetap berusaha menjaga komunikasi dan silaturahmi dengan suporter Persebaya, meski rivalitas kedua klub sudah berlangsung puluhan tahun.

Ia menegaskan bahwa keberangkatan perwakilan Viking ke Surabaya adalah bentuk penghormatan terhadap pesan tersebut. Tujuannya sederhana: menjaga hubungan kemanusiaan di luar stadion.

Namun realitas di lapangan berkata lain.

Baca Juga: Klasemen Liga 1 Terbaru: Semen Padang Gagal Menang Lawan 10 Pemain PSIM, Zona Degradasi Liga 1 Makin Dekat

Insiden Kekerasan Bayangi Laga Persib vs Persebaya

Dalam pernyataan resminya, Viking mengecam keras tindakan kekerasan yang terjadi selama rangkaian pertandingan tersebut.

Menurut laporan yang disampaikan organisasi suporter itu, beberapa anggota mereka mengalami intimidasi hingga serangan fisik. Selain itu, terdapat pula kerugian materi yang tidak sedikit.

Barang yang dilaporkan hilang atau rusak meliputi satu unit telepon genggam iPhone 11, pakaian, sepatu, jaket, serta uang setoran pekerjaan senilai Rp1,5 juta. Tak hanya itu, sepeda motor milik anggota Viking yang berdomisili di Surabaya juga dilaporkan mengalami perusakan.

Insiden tersebut disebut sebagai tindakan yang tidak dapat dibenarkan, apalagi jika terjadi di luar konteks pertandingan.

Tobias menekankan bahwa rivalitas antara Persib dan Persebaya seharusnya berhenti ketika peluit akhir pertandingan berbunyi.

Sepak bola, katanya, memang sarat emosi. Tetapi emosi tersebut seharusnya tidak melampaui batas hukum dan keselamatan manusia.

Dugaan Provokasi Hingga Penyerangan Hotel

Viking juga mengungkap adanya dugaan provokasi yang memperkeruh situasi. Bahkan disebutkan bahwa terdapat upaya penyerangan terhadap hotel tempat beberapa perwakilan Viking menginap di Surabaya.

Peristiwa tersebut dinilai sangat disayangkan karena merusak semangat persaudaraan yang selama ini berusaha dibangun antara suporter kedua klub.

Bagi Viking, kejadian ini menunjukkan bahwa upaya rekonsiliasi antar komunitas suporter belum sepenuhnya diterima oleh semua pihak.

Ada kelompok tertentu yang diduga tidak menghendaki hubungan baik tersebut tetap bertahan.

Jika benar demikian, maka upaya perdamaian suporter yang selama ini sering dipromosikan hanya akan menjadi simbol tanpa substansi.

Baca Juga: LIVE SCORE Babak Pertama Semen Padang vs PSIM Jogja Masih 0–0, Sudin Fahreza Dikartu Merah

Sikap Menahan Diri yang Dianggap Kelemahan

Dalam pernyataannya, Viking juga mengungkap bahwa mereka selama ini memilih tidak membalas berbagai bentuk provokasi dari pihak tertentu.

Keputusan tersebut bukan karena mereka tidak mampu merespons, melainkan karena ingin menjaga situasi tetap kondusif.

Menurut Tobias, sikap diam sering disalahartikan sebagai tanda kelemahan. Padahal, bagi mereka, itu merupakan bentuk kedewasaan dalam menyikapi rivalitas.

Ia menyebut organisasi tersebut tetap mencatat setiap ancaman, penghinaan, maupun tindakan kekerasan yang dialami anggotanya.

Namun hingga kini, mereka memilih menahan diri demi menghindari konflik yang lebih besar.

Pendekatan ini, menurut Viking, merupakan upaya menjaga reputasi organisasi sekaligus menghormati pesan moral para pendahulu.

“Viking Bonek Satu Hati” Tak Lagi Digunakan

Salah satu poin paling penting dalam pernyataan resmi tersebut adalah keputusan Viking untuk menjaga jarak dari slogan “Viking Bonek Satu Hati”.

Slogan itu selama bertahun-tahun dikenal sebagai simbol rekonsiliasi antara Viking dan Bonek, kelompok suporter utama Persebaya.

Namun setelah berbagai insiden yang terjadi belakangan ini, Viking menilai slogan tersebut sudah tidak lagi relevan dengan kondisi nyata di lapangan.

Organisasi itu menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil demi menjaga keselamatan anggota serta menjaga kehormatan organisasi.

Langkah ini juga menunjukkan bahwa hubungan antar suporter di Indonesia masih sangat rapuh.

Simbol persaudaraan memang mudah dideklarasikan, tetapi mempertahankannya membutuhkan komitmen bersama dari semua pihak.

Baca Juga: LINK Live Streaming Semen Padang vs PSIM Yogyakarta, Tayang di Indosiar dan Vidio

Rivalitas yang Selalu Menarik Perhatian

Pertemuan antara Persib Bandung dan Persebaya Surabaya memang selalu menjadi salah satu pertandingan paling menarik di sepak bola Indonesia.

Kedua klub memiliki basis suporter yang besar dan militan. Atmosfer pertandingan kerap menjadi sorotan karena penuh gairah dan emosi.

Namun di sisi lain, rivalitas tersebut juga kerap memunculkan ketegangan yang berpotensi berubah menjadi konflik.

Karena itu, banyak pihak menilai bahwa kedewasaan suporter menjadi kunci penting bagi perkembangan sepak bola nasional.

Sepak bola modern menuntut kompetisi yang sengit di lapangan, tetapi tetap menjunjung tinggi keamanan dan sportivitas.

Tanpa itu, pertandingan hanya akan meninggalkan cerita konflik, bukan prestasi.

Seruan Mengembalikan Spirit Sportivitas

Di akhir pernyataannya, Viking Persib Club mengajak semua pihak untuk kembali menjunjung tinggi sportivitas dalam sepak bola.

Mereka menilai bahwa keamanan dan keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap pertandingan.

Sepak bola seharusnya menjadi ruang perayaan bagi suporter, bukan arena permusuhan.

Pesan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa rivalitas klub tidak boleh menghapus nilai kemanusiaan.

Jika semangat sportivitas dapat dijaga, maka pertandingan antara Persib dan Persebaya tidak hanya menjadi tontonan menarik, tetapi juga simbol kedewasaan sepak bola Indonesia.

Namun jika kekerasan terus terjadi, maka setiap pertandingan besar hanya akan dibayangi rasa khawatir.

Dan dalam jangka panjang, situasi tersebut justru merugikan sepak bola nasional itu sendiri.

Editor : Mahendra Aditya
#viking persib club #viking persib #bonek #viking #viking persib bandung #persib vs persebaya #bonek persebaya #Viking Bonek